PravadaNews – Di tengah semakin luasnya penggunaan internet, sekitar 3.500 desa di Indonesia masih kesulitan mendapatkan sinyal seluler untuk kebutuhan komunikasi sehari-hari.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bagi AHY, pemerataan jaringan internet masih menjadi tantangan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Meski internet sudah menjangkau berbagai wilayah, AHY memperkirakan masih terdapat ribuan desa yang belum mendapatkan sinyal kuat.
Kondisi ini, ungkapnya, menunjukkan perluasan jaringan belum sepenuhnya diikuti pemerataan kualitas layanan.
“Saya rasa internet sudah sampai ke pelosok negeri. Walaupun nanti Pak Wamen Komdigi lebih teliti atau lebih detail, tapi setahu saya lebih dari 3.500 desa itu masih black spot atau tidak memiliki sinyal yang kuat,” ujar AHY dalam Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada September 2026, sebanyak 3.493 desa tercatat belum memiliki sinyal atau mengalami sinyal lemah. Artinya, tidak semua desa sepenuhnya kehilangan akses jaringan telekomunikasi.
Sementara itu, jaringan seluler generasi keempat (4G) diperkirakan telah menjangkau sekitar 99% penduduk Indonesia. Namun, Komdigi mengakui kualitas jaringan di sejumlah wilayah belum optimal karena keterbatasan infrastruktur dan tingginya biaya pembangunan.
AHY menilai, ketimpangan akses internet dapat memperlebar kesenjangan antardaerah maupun kelompok masyarakat.
Terlebih, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang lebih besar bagi masyarakat yang mampu menguasai teknologi.
“Karena kalau tidak, justru era digital ini memungkinkan terjadinya disparitas atau kesenjangan, ketimpangan antarwilayah, ketimpangan antarkelompok masyarakat, di mana yang memiliki dan menguasai teknologi, termasuk artificial intelligence, ini akan mendapatkan peluang-peluang yang luar biasa,” lanjut Menko AHY.
Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, AHY mendorong kerja sama pemerintah dan dunia usaha dalam membangun infrastruktur digital yang membutuhkan biaya besar. Sejalan dengan ini, Komdigi bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelaraskan pembangunan jaringan telekomunikasi dengan program Listrik Desa.
Kesulitan mendapatkan sinyal juga dirasakan warga kawasan Sulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Yusmariah. Ibu Rumah Tangga (IRT) itu mengaku jaringan seluler di tempat tinggalnya sulit digunakan untuk berkomunikasi.
Untuk tetap terhubung, Yusmariah mengatakan warga harus menggunakan layanan Wi-Fi atau paket data berbayar.
Biaya layanan tersebut, jelasnya, dihitung berdasarkan lama penggunaan, mulai dari hitungan jam hingga harian.
“Iya, biasanya kami di kampung sulit sinyal. Di sini kalau mau internetan juga harus bayar Wi-Fi atau paket data yang biasanya Rp3.000–Rp5.000 per jam, kalau mau satu harian harus bayar Rp10.000,” tutur Yusmariah saat dihubungi, Selasa (13/10).
Keterbatasan sinyal juga menyulitkan Yusmariah ketika ingin menghubungi keluarga yang tinggal di kota. Warga kampung, kata Yusmariah, terkadang harus lebih dahulu menghubungi keluarga di kota karena komunikasi tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah.















