Beranda / Kesehatan / Pakar Ungkap Manfaat Sukun dan Talas bagi Kesehatan

Pakar Ungkap Manfaat Sukun dan Talas bagi Kesehatan

PravadaNews – Sukun dan talas dapat melengkapi menu keluarga sebagai sumber karbohidrat berserat, di tengah sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap tingginya angka obesitas di Indonesia pada Oktober 2026.

Sebagai catatan, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sukun mengandung sekitar 27–30 gram karbohidrat per 100 gram bahan segar, serta serat dan vitamin C. Sementara itu, data Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan talas mengandung 6,83 gram serat pangan per 100 gram sampel yang diuji.

Anggota Tim Pakar Indofood Riset Nugraha (IRN), Widjaja Lukito, menilai kekayaan pangan lokal tersebut perlu dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan masyarakat. 

“Nah, hal kedua yang ingin saya tekankan, alangkah baiknya kita melihat bahwa Indonesia itu sangat kaya dengan bahan makanan yang saya sebut protective foods atau pangan protektif,” ucap Widjaja, Selasa (20/10). 

Salah satu manfaat serat pada sukun dan talas yakni membantu menjaga kesehatan pencernaan. Diketahui, serat dapat membantu melancarkan buang air besar dengan membuat feses lebih lunak.

Selain serat, talas mengandung oligosakarida yang berpotensi berfungsi sebagai prebiotik, yakni komponen pangan yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus. Kandungan ini turut dijelaskan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dalam publikasi mengenai manfaat talas.

Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) juga menemukan potensi prebiotik pada tepung talas yang diolah dengan teknik khusus, meskipun hasil pengujian laboratorium itu belum membuktikan manfaat yang sama pada semua olahan talas.

Melihat potensi tersebut, Widjaja mempertanyakan sejauh mana sukun dan talas telah diperkenalkan kepada masyarakat. 

“Itu luar biasa. Kita punya sukun. Seberapa banyak kita telah mempromosikan sukun dan talas itu? Itu adalah pangan berserat dan mengandung prebiotik,” tutur Widjaja.

Widjaja juga menyebut kandungan serat kedua pangan ini dapat membantu pengendalian gula darah dan mengurangi penyerapan lemak. Namun, sukun dan talas tetap mengandung karbohidrat sehingga jumlah konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Sementara itu, perwakilan Direktorat Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Novi Indriastuti, menjelaskan persoalan pangan tidak hanya menyangkut ketersediaan makanan, tapi juga pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh.

Novi mengingatkan, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), disertai kurangnya aktivitas fisik, dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, maupun penyakit jantung.

Karenanya, Novi menekankan pentingnya memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. 

“Dan yang terpenting, salah satu faktor risiko yang punya dominasi cukup kuat adalah bagaimana asupan makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari itu perlu diberikan perhatian yang cukup baik agar faktor risiko PTM tidak muncul,” tegas Novi dalam kesempatan yang sama.

Upaya tersebut sejalan dengan anjuran WHO pada Januari 2026 agar masyarakat berusia di atas 10 tahun mengonsumsi sedikitnya 25 gram serat pangan alami setiap hari, yang dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan.

Dengan demikian, sukun dan talas dapat menjadi bagian dari pola makan beragam tanpa dianggap sebagai pengganti pengobatan penyakit. Keduanya dapat diolah dengan cara direbus atau dikukus untuk membatasi tambahan minyak, sedangkan talas harus dimasak hingga matang agar kandungan oksalatnya tidak menimbulkan iritasi.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *