Guru Besar IPB University sekaligus Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dwi Andreas Santosa. (Foto: Dok. Soil.ipb.ac.id)

Beranda / Ekonomi / Pakar Ingatkan Risiko Harga Beras Naik

Pakar Ingatkan Risiko Harga Beras Naik

PravadaNews – Harga beras di tingkat penggilingan meningkat sejak September 2026 ketika pasokan dari sentra produksi mulai berkurang setelah masa puncak panen raya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras premium di penggilingan naik dari Rp15.062 menjadi Rp15.185 per kilogram pada September 2026. Sedangkan, harga beras medium meningkat dari Rp13.897 menjadi Rp14.018 per kilogram.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan berakhirnya masa puncak panen dan kondisi kemarau yang lebih kering memengaruhi pasokan gabah ke penggilingan.

“Untuk kenaikan harga beras pada bulan September 2026, ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya,” kata Ateng dalam keterangan resmi Badan Pangan Nasional (Bapanas), Jumat (2/10/2026).

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa mengingatkan risiko gangguan pasokan beras hingga 2027 akibat fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi pangan.

Dalam penjelasannya, Dwi menyoroti angka pertumbuhan produksi beras nasional pada 2025. 

Berdasarkan data BPS, produksi beras meningkat 13,29% dari 30,62 juta ton pada 2024 menjadi 34,69 juta ton pada 2025.

“Saya tidak percaya, terus terang. Kalau meningkat sekitar 7–8 persen barangkali,” ujar Dwi saat menyampaikan keraguannya terhadap besarnya kenaikan produksi tersebut, Rabu (21/10). 

Dwi turut mengungkit perbedaan penghitungan produksi padi pada masa lalu yang disebut pernah mencapai 47%. Persoalan ini berkaitan dengan perubahan metode pendataan sebelum BPS menerapkan Kerangka Sampel Area (KSA) secara nasional pada 2018.

Adapun data BPS menunjukkan produksi beras pada Agustus 2026 mencapai 3,15 juta ton, turun 2,90% dari 3,24 juta ton pada Agustus 2025. Namun, produksi sepanjang Januari–Agustus 2026 masih naik tipis 0,07% menjadi 25,29 juta ton.

Untuk September–November 2026, BPS memperkirakan potensi produksi beras mencapai 7,06 juta ton atau turun 11,95% dari 8,02 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu masih berupa perkiraan dan dapat berubah mengikuti kondisi panen.

Di tengah perkembangan produksi tersebut, Dwi menyoroti penguatan El Nino dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD), yakni perbedaan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang dapat memengaruhi pola hujan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi El Nino sangat kuat pada awal Oktober 2026. Dwi memperkirakan fenomena ini masih berlangsung hingga April 2027 dengan intensitas yang berubah.

Selain produksi dalam negeri, Dwi mengkhawatirkan gangguan panen di negara pengekspor beras seperti Thailand, Vietnam, Myanmar, dan India. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) juga mencatat indeks harga beras dunia meningkat 1,4% pada September 2026.

Menurutnya, gangguan produksi di sejumlah negara itu berpotensi mengurangi pasokan di pasar internasional. 

Kondisi itu, lanjut Dwi, menjadi salah satu risiko yang mendasari peringatannya mengenai kemungkinan kenaikan harga beras.

“Kalau terjadi potensi disrupsi pasokan, maka bisa dalam hitungan bulan harga beras akan melonjak cukup tinggi di tahun 2026 ini, dan pasti sampai tahun 2027,” pungkas pakar ini.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *