PravadaNews – Aktivitas pelayaran di sejumlah perairan Indonesia perlu mewaspadai potensi gelombang laut tinggi akibat pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Champi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4 meter, terutama di perairan Maluku dan Samudra Pasifik bagian utara Indonesia.
Peringatan tersebut berlaku hingga Kamis (22/10/2026) pukul 07.00 WIB, berdasarkan pembaruan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.
Gelombang tinggi kategori rough sea dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Laut Maluku dan Samudra Pasifik sebelah utara Maluku hingga Papua Barat Daya.
Sementara itu, gelombang kategori moderate sea dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter diprakirakan melanda Perairan Kepulauan Talaud hingga perairan utara Papua Barat Daya dan Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat hingga Papua.
BMKG menyampaikan, potensi peningkatan gelombang tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada kondisi laut, terutama nelayan dan pelaku transportasi maritim.
“Gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko keselamatan, khususnya bagi kapal yang memiliki keterbatasan menghadapi kondisi perairan bergelombang,” tulis BMKG dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
BMKG melalui TCWC Jakarta melaporkan, pusat Siklon Tropis Champi berada di Laut Filipina, tepatnya di sebelah timur laut wilayah Filipina.
Meski pusat siklon berada di luar Indonesia, pengaruh sistem cuaca tersebut masih dapat dirasakan di sejumlah kawasan perairan nasional.
Dampak yang diprakirakan, yakni peningkatan tinggi gelombang akibat perubahan kondisi angin dan laut di kawasan sekitarnya.
Kondisi ini, membuat perkembangan Siklon Tropis Champi tetap penting dipantau, terutama oleh masyarakat yang beraktivitas di perairan Indonesia timur.
Dalam proyeksi 24 jam, BMKG memperkirakan kecepatan angin maksimum Siklon Tropis Champi akan mengalami penurunan.
Namun, informasi yang dirilis menunjukkan bahwa sistem tersebut masih memiliki intensitas kategori empat dan bergerak ke arah barat-barat laut.
Menurut catatan BMKG, Siklon Tropis Champi terbentuk dari sistem gangguan cuaca yang sebelumnya teridentifikasi sebagai Bibit Siklon Tropis 96W.
Sistem tersebut, berkembang hingga mencapai intensitas siklon tropis pada 15 Oktober 2026 sekitar pukul 19.00 WIB.
Saat pertama kali mencapai intensitas siklon tropis, Champi masih berada di luar Area of Monitoring (AoM) atau wilayah pemantauan TCWC Jakarta.
Sistem tersebut, kemudian memasuki kawasan pemantauan TCWC Jakarta pada 19 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB.
Perkembangan Champi menjadi perhatian karena siklon tropis dapat memengaruhi kondisi atmosfer dan gelombang laut meskipun pusatnya berada jauh dari daratan Indonesia.
Pengaruh tidak langsung tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam prakiraan cuaca maritim.
Informasi perkembangan Siklon Tropis Champi dapat diakses melalui laman resmi BMKG di https://tropicalcyclone.bmkg.go.id. Pemantauan secara berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan posisi siklon dan potensi dampaknya terhadap perairan Indonesia.














