PravadaNews – Meletusnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel melawan Iran diprediksi berimbas terhadap situasi geopolitik global terutama mengenai lonjakan harga minyak mentah dunia yang diduga mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Kondisi itu tak terlepas dari imbas keputusan Iran yang telah resmi menutup Selat Hormuz setelah mendapat serangan gabungan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir pekan lalu.
Selat Hormuz sendiri merupakan kawasan perairan tersibuk di Iran sebagai jalur distribusi dari hampir 30% kebutuhan minyak dunia.
Baca juga: DPR Minta Pertamina Pastikan Stok BBM Aman Jelang Mudik Lebaran
Sementara, akibat lonjakan harga minyak itu diperkirakan juga akan mempengaruhi eskalasi ekonomi global termasuk Indonesia.
Menyikapi hal itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah untuk bersiap melakukan pemetaan menghadapi skenario terburuk imbas konflik di Timur Tengah (Tim Teng) tersebut.
Misbakhun mengatakan, pemerintah saat ini harus menyiapkan langkah yang cukup strategis untuk menghadapi potensi gejolak ekonomi global yang dapat berdampak langsung pada stabilitas harga dalam negeri menjelang Ramadan.
“Pemerintah harus bergerak cepat dengan skenario fiskal yang jelas dan langkah stabilisasi yang konkret,” ujar Misbakhun, dikutip Selasa (2/3/2026).
Misbakhun menilai, periode Ramadan yang identik peningkatan konsumsi masyarakat semestinya harus diantisipasi dengan perencanaan fiskal yang matang, terutama di tengah risiko kenaikan harga energi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Misbakhun mengingatkan, konflik yang telah melibatkan negara-negara kunci dalam rantai pasok energi global itu berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Menurut Misbakhun, kondisi itu ditengarai dapat memperberat beban subsidi energi dalam APBN apabila harga minyak bertahan di level tinggi.
Tekanan fiskal tersebut, lanjutnya, berisiko menjalar ke nilai tukar rupiah dan pada akhirnya memicu kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.
“Momentum Ramadan selalu identik dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Jika pada saat yang sama harga energi global melonjak dan nilai tukar berfluktuasi, tekanan inflasi akan semakin terasa,” kata Misbakhun.
Karena itu, Misbakhun mendorong Kementerian Keuangan agar dapat segera menyiapkan skenario fiskal darurat yang realistis, termasuk opsi penyesuaian postur belanja negara untuk menghadapi situasi global jika memburuk.
Misbakhun menambahkan, dengan langkah antisipatif dan perencanaan yang terukur, DPR berharap stabilitas ekonomi tetap terjaga sehingga daya beli masyarakat selama Ramadan tidak tergerus tekanan global.
“Penguatan cadangan fiskal dan penajaman prioritas belanja harus dilakukan agar ruang APBN tetap terjaga tanpa mengorbankan program perlindungan sosial,” tutup Misbakhun (GIB)














