Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. (Foto: Reuters)

Beranda / Mancanegara / Pejabat Iran Tuduh Trump Bohong soal Korban AS

Pejabat Iran Tuduh Trump Bohong soal Korban AS

PravadaNews – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah seorang pejabat tinggi keamanan Iran melontarkan sejumlah pernyataan keras terhadap Presiden AS, Donald Trump.

Pernyataan tersebut memicu polemik baru di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Hindustan Times, Minggu (8/3/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menyampaikan klaim kontroversial terkait kondisi pasukan Amerika. Larijani mengeklaim beberapa tentara Amerika telah ditangkap dan kini ditahan di penjara Iran selama konflik antara kedua negara berlangsung.

Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak militer Amerika Serikat. Seorang juru bicara U.S. Central Command (CENTCOM) mengatakan kepada Al Jazeera versi Arab pernyataan Iran tidak benar.

“Pernyataan rezim Iran tentang penangkapan tentara Amerika hanyalah contoh lain dari kebohongan dan penipuan mereka,” ujar juru bicara CENTCOM.

Baca juga: Perang Iran Ancam Pasokan Energi Dunia | Pravada News

Tuduhan Manipulasi Korban Militer

Dalam pernyataannya, Larijani juga menuduh Trump menyebarkan narasi yang menyesatkan terkait jumlah korban tentara Amerika akibat serangan Iran. Pemerintah AS sebelumnya menyatakan enam tentara Amerika tewas dalam serangan tersebut.

Namun Larijani mengklaim jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar. Larijani bahkan menuding jumlah korban tentara Amerika sebenarnya telah melampaui 500 orang, meskipun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Menurut Larijani, pemerintah Amerika secara bertahap akan mengungkap jumlah korban sebenarnya dengan berbagai alasan.

“Seiring berjalannya waktu mereka akan perlahan meningkatkan jumlah korban tewas dengan berbagai dalih, seperti kecelakaan insidental atau insiden yang dibuat-buat,” tulisnya di platform X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.

Dalam unggahan lainnya, Larijani juga menegaskan bahwa sejumlah tentara Amerika yang disebut tewas sebenarnya ditahan oleh Iran.

“Dilaporkan kepada saya bahwa beberapa tentara Amerika telah ditangkap. Namun pihak Amerika mengklaim mereka tewas dalam pertempuran. Terlepas dari upaya sia-sia mereka, kebenaran tidak bisa disembunyikan terlalu lama,” tulis Larijani.

Trump Isyaratkan Serangan Baru

Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan sinyal Amerika Serikat mempertimbangkan serangan terhadap wilayah baru di Iran yang sebelumnya tidak termasuk dalam daftar target militer.

Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menulis bahwa Iran akan menghadapi serangan yang sangat keras.

“Hari ini Iran akan dihantam sangat keras!” tulisnya dalam sebuah unggahan.

Dalam pernyataan terpisah, Trump juga mengklaim Iran telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah.

Larijani mengatakan, permintaan maaf tersebut muncul setelah serangan intensif yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel.

“Iran yang sedang dipukul habis-habisan telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan menembaki mereka lagi,” tulis Trump.

Trump juga menambahkan Iran sebelumnya memiliki ambisi untuk menguasai kawasan Timur Tengah, namun kini menghadapi tekanan besar dari negara-negara di sekitarnya.

Iran Tegaskan Tidak akan Menyerah

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah meskipun tekanan militer terus meningkat.

Dalam pidato yang disampaikan, Pezeshkian menegaskan Iran akan tetap mempertahankan sikapnya di tengah konflik yang berlangsung.

“Gagasan kami akan menyerah tanpa syarat adalah mimpi yang harus mereka kubur,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran masih melancarkan serangan rudal ke sejumlah target, termasuk ke wilayah yang menampung pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk.

Situasi ini menandai eskalasi baru dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang dikhawatirkan dapat memperluas ketegangan di seluruh kawasan Timur Tengah serta memicu dampak yang lebih luas terhadap stabilitas geopolitik global.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *