PravadaNews – Meletusnya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dalam sepekan terakhir ini ditengarai telah memberikan efek cukup besar terhadap stabilisasi pasar energi global.
Tindakan AS dan Israel yang terus menaikan eskalasi serangan ke Iran telah memicu aksi serangan balasan dari Teheran ke wilayah wilayah pangkalan militer milik AS dan wilayah Israel.
Sejumlah analis memperkirakan dampak dari aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran akan memicu tidak stabilnya harga bahan bakar dan energi dalam waktu yang cukup lama meskipun konflik berhenti dalam waktu dekat.
Serangan rudal dari Amerika dan Israel dengan disusul aksi balasan rudal Iran, yang melewati jalur udara di kawasan Timur Tengah (Timteng), kerusakan fasilitas energi dan infrasturktur imbas konflik itu juga turut menggangu distribusi pasokan minyak dan gas kebutuhan global.
Baca juga: Eksodus Miliarder Dubai
Dalam keterangannya, analis dari JP Morgan menilai, meletusnya konflik di Timur Tengah (Timteng) itu berdampak merubah dinamika arus pasar energi dan bahan bakar minyak.
Hal itu tak terlepas dari kenyataan pahit yang dirasakan imbas konflik itu tidak lagi sekedar perhitungan soal resiko geopolitik saja namun juga berkaitan dengan beban operasional.
“Pasar kini bergeser dari sekadar memperhitungkan risiko geopolitik menjadi menghadapi gangguan operasional yang nyata, ketika penutupan kilang dan pembatasan ekspor mulai mengganggu pengolahan minyak mentah serta aliran pasokan regional,” tulis analis JP Morgan dalam catatan riset, dikutip dari Reuters, Minggu (8/3/2026).
Adapun terhambatnya distribusi energi dan bahan bakar minyak akibat konflik itu juga berpotensi
menaikan harga pasar akibat dari beban operasional distribusi yang cukup membengkak.
Selain berdampak terhadap pasar energi dan ekonomi global, akibat pecahnya konflik itu juga dianggap akan memunculkan reaksi politik di AS terutama menjelang pemilu ke depan.
Kebijakan Donald Trump yang saat ini menjabat sebagai Presiden AS itu akan memicu reaksi sensitif dari sejumlah politikus negeri Paman Sam terutama mengenai dampak kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak imbas konflik serangan ke Iran di Timur Tengah (Timteng).
Distribusi Energi Global Terganggu
Usai tewasnya pemimpin besar Iran, Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS dan Israel, Teheran nampak bersikap sangat agresif membalas serangan dan tidak memberikan cela terhadap kedua negara tersebut.
Dampaknya, Iran dalam sepekan terakhir telah mengkonsentrasikan penempatan ratusan tentara di Selat Hormuz untuk melakukan penjagaan ketat terhadap kapal kapal yang hendak melintas.
Aksi Iran itu pun ditengarai telah menyebabkan seperlima pasokan minyak mentah dan juga gas alam dunia terganggu. Selain itu, Iran juga melancarkan serangan demi serangan ke sejumlah objek vital milik AS dan Israel, salah satunya menyerang infrastuktur energi di daerah tersebut.
Tak berselang lama, dampak dari aksi menjaga ketat Selat Hormuz itupun langsung dirasakan pasar global yakni dengan meroketnya harga minyak dunia sekitar 24% selama sepekan dengan harga US$ 90 per barel.
Jika konflik ketiga negara ini terus berlanjut, diprediksi harga minyak dunia akan semakin meroket yang berimbas terhadap kenaikan harga bahan bakar seluruh pasar global.
Terhambatnya distribusi minyak mentah di Selat Hormuz, diduga juga telah mengubah kebijakan negara-negara di timur tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat, Irak dan Kuwait untuk menghentikan distribusi minyak dalam skala besar.
Selain itu, imbas diperketatnya jalur pelayaran Selat Hormuz oleh Iran juga telah berdampak Ikhwal tertundanya pengiriman minyak mentah sekitar 140 juta barel minyak, atau setara dengan sekitar 1,4 hari kebutuhan minyak dunia.
Dampak pengawasan dan juga penjagaan ketat di Selat Hormuz itu turut menimbulkan fasilitas cadangan penyimpanan minyak dan gas di kawasan Teluk Timur Tengah cepat penuh. Kondisi itu juga memaksa negara produsen minyak seperti Kuwait, Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) memangkas sementara produksi minyaknya.
“Pada titik tertentu dalam waktu dekat, semua produsen juga akan menghentikan produksi jika kapal-kapal tidak datang,” kata seorang sumber dari perusahaan minyak milik negara di kawasan tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan. (GIB)















