Ilustrasi Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah kini mulai mengirimkan gelombang kejut yang dirasakan langsung oleh perekonomian domestik Indonesia. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Nasional / Geopolitik Timteng Kirim Gelombang Kejut Perekonomian Domestik

Geopolitik Timteng Kirim Gelombang Kejut Perekonomian Domestik

PravadaNews – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah (Timteng) kini mulai mengirimkan gelombang kejut yang dirasakan langsung oleh perekonomian domestik Indonesia.

Per hari ini, Rabu (11/3/2026), dinamika global tersebut memaksa pemerintah pusat untuk mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas harga energi, daya beli masyarakat, dan integritas diplomasi internasional.

Ancaman Harga Minyak dan Strategi B50

Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketidakpastian di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran akan kenaikan harga BBM di dalam negeri. Menanggapi situasi ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengeluarkan pernyataan tegas yang mengimbau masyarakat agar tetap tenang.

“Kami mengimbau warga agar tidak melakukan panic buying BBM. Pemerintah saat ini memiliki cadangan yang cukup dan terus memantau pergerakan pasar global. Prioritas kami adalah memastikan pasokan tetap tersedia bagi seluruh lapisan rakyat,” ujar Bahlil dalam konferensi persnya.

Sebagai langkah kontingensi jangka panjang, pemerintah kini mempercepat kajian mandatori Biodiesel B50. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah dan memperkuat kedaulatan energi nasional berbasis komoditas domestik (sawit). Jika diimplementasikan lebih awal, B50 diharapkan mampu menjadi “bantalan” ekonomi saat harga energi fosil dunia tidak terkendali.

Emas Meroket, IHSG “Wait and See”

Ketidakpastian geopolitik selalu mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven). Hari ini, harga emas batangan Antam dilaporkan melonjak hingga Rp40.000 per gram. Lonjakan ini mencerminkan tingginya kekhawatiran pasar global terhadap potensi krisis energi berkepanjangan.

Di sisi lain, pasar modal domestik menunjukkan sikap berhati-hati. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif di level 7.500. Analis pasar modal menyebutkan para investor cenderung melakukan aksi wait and see sembari memantau seberapa jauh eskalasi militer di Timur Tengah akan berdampak pada rantai pasok global. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga menjadi variabel yang terus diwaspadai oleh Bank Indonesia.

Konsistensi Politik Luar Negeri “Bebas Aktif”

Di tengah tarikan kepentingan antara blok Barat dan kekuatan regional Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia yang tidak tergoyahkan. Dalam pernyataan resminya, Presiden menekankan Indonesia akan tetap setia pada mandat konstitusi, yaitu menjalankan politik luar negeri yang Bebas Aktif.

Bebas, artinya, Indonesia tidak akan menjadi alat atau memihak kepada blok manapun dalam konflik bersenjata ini.

Aktif, yakni Indonesia akan terus mendorong upaya deeskalasi melalui jalur diplomasi di PBB guna mencegah jatuhnya korban sipil dan kerusakan ekonomi global yang lebih parah.

Presiden menambahkan di tengah krisis dunia, kepentingan nasional, terutama kesejahteraan rakyat Indonesia adalah kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan diplomatik.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *