PravadaNews – Krisis pengan global menjadi ancaman nyata. Laporan terbaru World Food Programme (WFP) mewanti-wanti, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan penduduk dunia yang alami kelaparan akut ke level rekor pada 2026.
Jika eskalasi di Timur Tengah terjadi berkepanjangan, maka harga energi dunia akan melambung.
Selain itu, 45 juta orang akan jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut.
Oleh karena itu, ketahanan pangan menjadi isu strategis dalam menentukan stabilitas ekonomi dan sosial suatu negara.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, dunia saat ini sedang menghadapi ancaman krisis pangan serius.
Sehingga, setiap negara perlu memperkuat ketahanan pangan dan tidak bergantung pada negara lain.
“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” kata Amran dalam keterangannya, mengutip pada Senin (23/3/2026).
Baca Juga: Bulog Sumut Serap 1.784 Ton Jagung Petani
Picu Inflasi Pangan Global
Amran mengatakan, kenaikan harga energi, gangguan distribusi, dan meningkatnya biaya logistik memicu inflasi pangan global yang pernah terjadi ketika perang Rusia-Ukraina pada 2022 lalu.
Dampak perang itu tidak hanya dirasakan negara yang berperang, tetapi juga negara lain di dunia.
Negara-negara yang bergantung pada impor pangan menjadi paling rentan menghadapi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.
Amran mengatakan, jika terjadi krisis global karena konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel, maka negara yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya secara mandiri.
“Itu sebabanya kita (Indonesia) harus memperkuat produksi dalam negeri,” kata Amran.
Amran menuturkan, di tengah ancaman krisis pangan global tersebut, Indonesia justru berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan.
Program pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah saat ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi.
Tetapi juga membangun sistem pertanian yang kuat, modern, dan berkelanjutan.
Pemerintah menargetkan swasembada pangan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
“Kita harus optimis. Indonesia punya lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia. Kalau semua dimaksimalkan, swasembada bukan mimpi, lumbung pangan dunia juga bukan hal yang mustahil, salah kalau kekuatan ini kita biarkan,” pungkas Amran.















