PravadaNews – PT Pertamina (Persero) membantah kabar yang beredar di media sosial terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53).
Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron menyatakan, informasi tersebut tidak benar.
“Informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Baron kepada PravadaNews, Selasa (31/3/2026).
Baron memastikan belum ada keputusan untuk menaikan harga BBM. “Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026,” jelas Baron.
Baron mengimbau masyarakat untuk mengecek harga BBM melalui laman resmi milik PT Pertamina (Persero). “Dapatkan informasi valid harga BBM Pertamina hanya melalui saluran resmi www.pertamina.com,” jelas Baron.
Baron mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan BBM secara bijak. “Pertamina mendukung imbauan Pemerintah untuk menggunakan energi secara bijak,” pungkas Baron.
Dalam informasi yang beredar, disebutkan harga jual BBM jenis Pertamax akan menjadi Rp17.850 per liter atau naik Rp5.550 per liter dari harga jual semula pada Maret 2026 yang senilai Rp12.300 per liter.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang melemah dari Rp16.819 per 1 dolar AS menjadi Rp16.877 per 1 dolar AS.
Baca Juga: Ekonom Ramal BBM Subsidi Naik 15 Persen
Masih pada informasi yang sama, kenaikan harga Pertamax (RON 92) juga dipengaruhi oleh lonjakan harga indeks pasar (HIP) BBM RON 92 sebesar 62,44 persen atau 46,15 dolar AS per barel, dari 73,91 dolar AS per barel menjadi 120 dolar AS per barel; atau naik 62,99 persen (sekitar Rp4.925 per liter) dari Rp7.818 per liter menjadi Rp12.744 per liter.
Kenaikan harga jual juga diperkirakan akan terjadi untuk produk bensin lainnya, seperti Pertamax Green 95 (dari Rp12.900 per liter, naik menjadi Rp19.150 per liter), Pertamax Turbo (dari Rp13.100 per liter naik menjadi Rp19.450 per liter).
Selanjutnya, untuk BBM jenis solar, yakni Pertamina Dex juga diperkirakan akan mengalami kenaikan dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.950 per liter; serta Dexlite naik dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.650 per liter.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi, Bahan Bakar Minyak (BBM) subisidi dan non-subsidi akan alami kenaikan.
Bhima meramalkan, BBM subsidi naik sekitar 15-20 persen per liter. Sekarang BBM subisidi seperti Pertalite harganya Rp10.000. Jika naik 15-20 persen, hargaya bisa mencapai Rp.12.000.
“BBM non-subsidi diperkirakan naik 1.500-2.000 per liter sekitar 15 persen untuk Pertamax dan Pertamina Dex,” kata Bhima kepada PravadaNews, Selasa (31/3/2026).
Kenaikan BBM non-subsidi itu, kata Bhima, karena besarnya kompensasi yang harus dibayarkan pemerintah kepada PT Pertamina.
“Kenanikan BBM non-subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan,” ujar Bhima.















