PravadaNews – Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance, Didik J. Rachbini, mendesak pihak pemerintah dan juga Bank Indonesia (BI) menjelaskan faktor penyebab keok nya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS.
Dalam keteranganya, sosok yang akrab disapa Didik itu menilai poin pelemahan nilai tukar rupiah telah mencerminkan persoalan ekonomi politik yang lebih luas, bukan semata-mata masalah teknis ekonomi.
Menurut Didik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 17.600 kini merupakan sejarah paling buruk bagi Indonesia lantaran berada dalam rekor kondisi terlemah dan bahkan dinilai mengalami under value.
Didik menilai, kondisi tersebut juga telah menunjukkan bahwa pasar tidak lagi sepenuhnya bakal tetap memberikan kepercayaan terhadap fundamental dan arah kebijakan ekonomi nasional.
“Jadi kita perlu mencari tahu sebab-sebab mengapa pasar tidak lagi berpihak kepada kita sehingga nilai tukar terus menurun,” kata Didik kepada PravadaNews, Selasa (19/5/2026).
Didik menegaskan, pelemahan rupiah tidak bisa dijelaskan hanya dari faktor teknis seperti suku bunga, inflasi, atau arus modal jangka pendek.
Menurut didik, terdapat persoalan ekonomi politik yang dinilai sangat memengaruhi persepsi pasar terhadap Indonesia.
Didik menilai pemerintah perlu belajar dari sejarah pengalaman penanganan krisis ekonomi 1998.
Didik mencontohkan pada saat itu langkah-langkah yang dilakukan Presiden ke-3 RI, B. J. Habibie, yang dinilai mampu memulihkan kepercayaan pasar dalam waktu relatif singkat.
“Pengalaman Presiden Habibie dalam waktu singkat bisa menurunkan nilai tukar rupiah dari Rp16.800 per dolar AS menjadi Rp6.500 per dolar AS dapat dijadikan acuan untuk membuat kebijakan yang komprehensif,” ujarnya.
Didik menekankan, keberhasilan pemulihan ekonomi pada masa itu tidak hanya bertumpu di kebijakan moneter, melainkan juga langkah politik dan reformasi kelembagaan yang mampu mengembalikan keyakinan pelaku pasar.
Didik menambahkan, pemerintah saat ini perlu juga menghadirkan kebijakan yang terintegrasi antara stabilitas politik, reformasi ekonomi, dan kepastian hukum agar tekanan terhadap rupiah dapat dikendalikan.
“Pengalaman Presiden habibie dalam waktu singkat bisa menurunkan nilai tukar rupiah dari 16.800 rupiah per dollar menjadi 6.500 rupiah per dollar bisa dijadikan acuan untuk membuat kebijakan yang komprehensif,” tutup Didik.
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino mendesak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berkata jujur untuk mengungkap tabir penyebab atas lemahnya nilai tukar rupiah pada Dolar AS.
Desakan itu disampaikan langsung kepada Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin, (18/5/2026).
Dalam kegiatan rapat tersebut, politikus PDIP itu telah nampak beberapa kali melontarkan kritik terhadap kebijakan bank sentral.
Harris menilai pelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata dipicu dari tekanan global sebagaimana kerap disampaikan BI.
Menurut Haris, persoalan ekonomi domestik juga memberi kontribusi besar terhadap depresiasi mata uang nasional.
“Semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Tetapi kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” kata Harris dalam rapat itu.
Harris mengakui bahwa tekanan global memang menjadi salah satu faktor yang cukup memengaruhi nilai tukar kurs rupiah.
Namun, Harris menilai terdapat persoalan serius di dalam negeri yang belum diungkap secara terbuka.
Harris menyoroti sejumlah poin persoalan domestik, mulai dari kondisi fiskal, defisit transaksi berjalan atau current account deficit, hingga derasnya arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Selain itu, faktor lainnya, menurut Haris, yakni terkait menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional juga ikut menekan nilai tukar rupiah.
Harris meminta BI menyampaikan kondisi sebenarnya kepada publik agar pemerintah dan juga otoritas moneter dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Ini harus jujur diakui. Ada masalah di fiskal. Ada masalah di defisit current account. Ada arus modal keluar dalam jumlah besar, dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tutup Harris.
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kian melonjak. Senin pagi ini, data Bloomberg sekitar pukul 09.10 WIB menunjukkan nilai tukar dolar AS berada di level Rp 17.658.
Sementara di bank, dolar AS bahkan sudah dijual hingga ke level Rp 17.750.
Mengutip harga jual dolar AS pagi ini per pukul 09.15 WIB, harga TT counter di sejumlah atau transaksi tunai di bank langsung berkisar dari Rp 17.645 hingga Rp 17.750.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengklaim nilai tukar rupiah ke dolar AS akan segera menguat dalam waktu dua bulan kedepan.
Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa Perry itu meyakinkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada Mei 2026 bersifat sementara.
Perry mengaku optimistis rupiah akan kembali menguat mulai Juli hingga beberapa bulan setelah badai lemahnya nilai tukar pada bulan Mei 2026.
Perry meyakini lemahnya nilai tukar rupiah ke dolar AS saat ini merupakan seiring pola musiman yang berulang setiap tahun.
Diketahui pada hari ini, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.671 per dolar AS pada bursa perdagangan.
Di hadapan legislator, Perry turut memaparkan bahwa asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 berada di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan rata-rata sekitar Rp16.500.
Sementara itu, rata-rata year to date rupiah disebut sudah berada di atas Rp16.900, atau melampaui asumsi tersebut.
“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni karena permintaan dolar tinggi,” ujar Perry dalam rapat.
Perry menambahkan, tekanan pada periode tersebut bukan hal baru. Menurutnya, pola serupa kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir sebelum rupiah kembali menguat pada semester kedua, khususnya Juli hingga September.
“Kalau Juli, Agustus akan menguat. Itu pola yang berulang,” kata Perry, seraya menyebut volatilitas saat ini masih dalam batas yang dapat dikelola.















