PravadaNews – Pemerintah perlu melakukan beberapa langkah dalam menyikapi melonjaknya harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Perang itu membuat minyak mentah dunia sebesar 20-30 persen alami gangguan. Sehingga, pasokan energi akan alami kendala.
Untuk menahan bengkaknya APBN atas subsidi energi, pemerintah harus melakukan pendataan terhadap masyarakat yang layak mendapatkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Pemerintah harus berani memangkas subsidi untuk kelompok masyarakat mampu,” kata Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Aryanto Nugroho kepada PravadaNews, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: BBM Subsidi dan Non-Subsidi Tidak Naik
“Masalah utama kita selama ini adalah subsidi yang salah sasaran (dinikmati pemilik mobil pribadi mewah),” jelas Ary,
Ary mengatakan, pemerintah harus berani melakukan pembenahan terkait kebijakan pemberian subsidi BBM.
“Jika ini dibenahi, tekanan terhadap APBN bisa berkurang tanpa harus memukul daya beli masyarakat miskin,” kata Ary.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan, sampai saat ini tidak ada penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat konferensi pers terkait Kebijakan pemerintah dalam menyikapi kondisi geopolitik global saat ini secara video conference, Selasa (31/3/2026).
Bahlil mengatakan, pemerintah tidak menaikan harga BBM subsidi maupun non-subsidi. “Penyesuaian harga untuk BBM subsidi, tidak ada penyesuaian, naik ataupun turun, artinya flat masih pakai harga sekarang,” jelas Bahlil.
Sementara itu, BBM non-subsidi dan untuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta akan dibahas lebih lanjut.
“Untuk BBM yang non-subsidi sampai dengan hari ini, kami dengan tim Pertamina maupun dengan SPBU-SPBU swasta lain sedang melakukan pembahasan sampai waktu selesai,” ujar Bahlil.
Namun, Bahlil memastikan untuk BBM non-subsidi dan SPBU swasta masih pakai harga yang sekarang ini ditetapkan oleh pemerintah.
“Jadi, artinya apa belum juga ada penyesuaian harga masih tetap masih tetap sama,” kata Bahlil.















