PravadaNews – Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir mengatakan pasukanya berhasil melakukan serangan kepada Hizbullah yang berada di Selatan Lebanon dengan kerusakan kumulatif dan belum pernah terjadi sebelumnya.
“Garis kuning tidak membatasi kami. Di mana pun kami diharuskan untuk menghilangkan ancaman, kami akan bertindak,” ujar Zamir dikutip Aljazera, Jumat (29/05/2025).
Ia mengklaim, mengklaim 2.500 tentara Hizbullah telah tewas sejak awal perang pada 2 Maret. Zamir juga mengakui bahwa pesawat nirawak (drone) Hizbullah menghadirkan tantangan tersendiri, tetapi mengatakan militer Israel dapat mengatasinya.
“Komando ini bertindak kreatif dengan inisiatif dan tanggung jawab, termasuk bermanuver ke ruang-ruang baru, dan terus menekan musuh, menghancurkan kemampuannya, dan secara sistematis melumpuhkannya,” kata Zamir.
Pengamat politik Ori Goldberg mengatakan Israel memperluas kampanye militernya di Gaza dan Lebanon karena mereka tidak dapat lagi melakukannya di Iran sementara AS merundingkan pengakhiran perang tanpa masukan Israel.
“Israel telah kehilangan semua opsinya untuk memperluas operasinya di Iran, Israel telah disingkirkan dari negosiasi yang sedang berlangsung tanpa keterlibatan aktif Israel,” kata Goldberg kepada Al Jazeera.
Namun demikian, Perdana Menteri Netanyahu dan banyak warga Israel percaya bahwa terus memerangi musuh adalah satu-satunya cara bagi negara tersebut untuk mencapai
“Keamanan yang lebih permanen”, kata Goldberg.
Israel melakukan eskalasi di Gaza “karena mereka tahu tidak akan menghadapi penentangan yang keras”, dan di Lebanon “karena sejauh ini dunia membiarkan Israel bebas melakukannya tanpa hukuman”. (Jati)















