Industri Otomotif Tertekan Jika BBM Naik

Industri Otomotif Tertekan Jika BBM Naik. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Industri Otomotif Tertekan Jika BBM Naik

Industri Otomotif Tertekan Jika BBM Naik

PravadaNews – Semua industri di Tanah Air akan terkena dampak jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) alami kenaikan. Sementara ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik menuju 115 dolar AS per barel pada Selasa (7/4/), melansir dari TRADING ECONOMICS.

Kenaikan harga minyak mentah dunia tidak lepas dari ancaman Presiden AS, Donald Trump terhadap Iran, karena tidak ingin membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, angka perdagangan per hari ini menjadi yang tertinggi sejak 2022 lalu.

Kenaikan harga minyak mentah dunia akan berimplikasi terhadap naiknya harga BBM. Sejumlah negara di Asia, seperti Filipina dan Thailand memutuskan untuk menaikan harga BBM, karena terganggunya pasokan energi.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menilai, jika terjadi kenaikan harga BBM, hampir seluruh industri di Tanah Air akan terkena dampaknya, khususnya otomotif.

Baca Juga: Tiket Melambung Kantong Meriang

“Semua industri (kena dampaknya), padat modal, misalnya padat modal ya, capital intensive, pabrik mobil,” kata Presiden KSPI, Said Iqbal kepada PravadaNews, Senin (6/4/2026).

Said Iqbal menuturkan, dengan BBM naik masyarakat tidak akan mau membeli mobil dengan Cubic Centimeter (CC) besar. “Akibatnya produksi mobil turun,” ujar Said Iqbal.

Said Iqbal menyebutkan, impor pick up dari India juga memberi tekanan kepada industri otomotif nasional. “Dihantam lagi dengan mobil pick up dari India yang impor-impor. Otomotif itu akan terdampak sekali,” kata Said Iqbal.

Laporan penjualan ritel otomotif pada Februari 2026

Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total penjualan meningkat dari 67.009 unit pada Januari menjadi 78.219 pada Februari 2026, didorong oleh para pemimpin yang sudah mapan dan pemain baru yang bermunculan.

Pemimpin Pasar dan Dominasi Volume

Dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa Toyota mempertahankan kepemimpinan pasar dengan 22.812 unit terjual. “Toyota tetap menjadi kekuatan dominan, menyumbang hampir 30% dari total penjualan ritel pada bulan Februari,” tulis laporan GAIKINDO, dikutip redaksi pada Selasa (7/4/2026).

Tiga Merek teratas menguasai 56% pasar yakni Toyota sebanyak 22.812 (29,2%), Daihatsu 12.336 (15,8%), dan Suzuki 9.035 (11,5%).

Tren Pertumbuhan dan Kinerja Mendatang

Laporan tersebut mencatatkan pertumbuhan pasar total sebesar 16,7%. Suzuki mencatatkan lonjakan volume terbesar, meningkat sebanyak 3.534 unit dalam satu bulan. “Suzuki memimpin peningkatan momentum,” tulis laporan GAIKINDO.

Tidak hanya itu, GAIKINDO mencatat meningkatnya kehadiran merek Tiongkok. “BYD dan Jaecoo menunjukkan tren kenaikan yang kuat, masing-masing melampaui 3.000 unit pada bulan Februari,” tulis GAIKNDO dalam laporannya.

Semetara itu, kinerja pasar totalnya sebesar 147.631 secara komulatif. “Total penjualan grosir di semua merek untuk dua bulan pertama tahun 2026,” tulis GAIKINDO dalam laporannya.

GAIKINDO mencatat bahwa pertumbuhan pasar bulanan mencapai 22%. “Volume perdagangan total meningkat dari 66.472 pada bulan Januari menjadi 8.159 pada bulan Februari,” demikian laporan GAIKINDO.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *