PravadaNews – Sektor pangan nasional tengah menghadapi tekanan ganda dari konflik geopolitik di Timur Tengah dan ancaman kemarau panjang akibat El Nino. Meski berpotensi mengganggu rantai pasok hingga memicu kenaikan harga, pemerintah memastikan kondisi stok pangan nasional masih dalam batas aman.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berisiko mengganggu distribusi pangan global, terutama komoditas impor seperti gula dan bawang putih. Dampak lanjutan dari konflik tersebut juga dapat meningkatkan biaya logistik akibat kenaikan harga energi.
“Meski konflik di Timur Tengah mulai mengganggu rantai pasok global, pasokan bahan pangan utamanya seperti bawang merah, bawang putih, cabai, telur ayam, dan gula pasir, cukup,” ujar Amran di Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal
Selain faktor eksternal, Indonesia juga menghadapi ancaman iklim berupa El Nino yang diprediksi berlangsung dari April hingga Agustus 2026. Fenomena ini berpotensi memicu kekeringan di berbagai wilayah dan berdampak pada produksi pertanian.
“Indonesia dihadapkan pada ancaman kemarau yang akan terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia yang kita beri nama El Nino Godzilla. Data BMKG menunjukkan prediksi kemarau tahun 2026 mulai April, diawali di Nusa Tenggara Timur dan menyebar ke daerah lain dengan puncak kemarau bulan Agustus,” sebut Amran.
Sebagai langkah mitigasi, Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produksi komoditas strategis sekaligus energi alternatif berbasis pertanian. Program ini mencakup pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel B50 dan etanol dari tebu, singkong, ubi, dan jagung.
“Presiden Prabowo telah menginstruksikan untuk optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati dari sawit, tebu, ubi kayu dan jagung. Selanjutnya Kementerian Pertanian telah menyusun rencana implementasi B50 tahun ini, InsyaAllah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Ke depan kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu dan jagung,” kata Amran.
Untuk menghadapi kekeringan, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah teknis, mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga optimalisasi irigasi dan penggunaan alat pertanian modern.
“Untuk mendukung langkah-langkah tersebut, Kementerian Pertanian telah menyiagakan alat dan mesin pertanian berupa pompa air, traktor Hensbury Transplanter dan lain-lain, sebanyak 171 ribu unit,” jelas Amran.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan pangan nasional. Berdasarkan proyeksi hingga Mei 2026, sejumlah komoditas utama masih dalam kondisi surplus.
“Beberapa komoditas utama tercatat surplus, antara lain beras 16,39 juta ton, jagung 4,3 juta ton, gula konsumsi 632 ribu ton, daging ayam 837 ribu ton, telur ayam 423 ribu ton dan komoditas lain. Stok cadangan pangan pemerintah, Bulog 4,6 juta ton,” ucap Amran.
Meski tekanan global dan iklim tidak bisa dihindari, pemerintah menilai kombinasi strategi produksi, efisiensi energi, dan penguatan cadangan pangan menjadi kunci menjaga stabilitas pangan nasional dalam waktu dekat.
“Jadi kemarin 4,5, sekarang 4,6 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10-11 bulan ke depan. Di sisi lain, El Nino diperkirakan 6 bulan. Jadi Insyaallah pangan kita aman,” kata Amran.















