PravadaNews – Dietisien dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, menilai pemenuhan gizi anak tidak harus bergantung pada bahan pangan mahal, selama kebutuhan nutrisi harian tetap tercukupi melalui substitusi pangan lokal.
Menurut Yesi, bahan makanan yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal dapat menjadi alternatif setara untuk memenuhi prinsip gizi seimbang.
“Pangan lokal seperti telur, tempe, ikan, sayur hijau, dan buah mudah ditemui dan biaya terjangkau. Makanan yang bergizi tidak perlu yang mahal, yang penting bergizi seimbang sehingga kebutuhan gizi anak terpenuhi,” kata Yesi dikutip dari ANTARA, Rabu (8/4/2026).
Baca juga : Bubur Kacang Merah yang Kaya Manfaat
Ia menjelaskan, acuan pemenuhan gizi anak dapat merujuk pada konsep “Isi Piringku”, yakni setengah piring diisi sayur dan buah, seperempat makanan pokok seperti nasi atau kentang, serta seperempat lainnya sumber protein, seperti daging, ayam, ikan, telur, tahu, atau tempe.
Namun, Yesi menekankan komposisi tersebut tidak harus terpenuhi secara sempurna dalam setiap waktu makan, selama kebutuhan gizi harian anak tetap tercapai.
Dalam kondisi keterbatasan bahan pangan, ia mendorong masyarakat melakukan substitusi dengan bahan lain yang memiliki nilai gizi setara.
“Misalnya bila sulit mendapatkan daging sapi atau ayam, bisa diganti dengan telur, tahu atau tempe yang mudah ditemukan dan harga lebih terjangkau. Bila beras sulit ditemukan bisa diganti dengan kentang, ubi, singkong atau jagung. Jika buah tertentu sulit ditemukan atau harga mahal bisa diganti dengan buah-buahan lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, menu harian anak tetap harus mencakup sumber energi, protein, serta sayur dan buah, meskipun tidak selalu lengkap dalam setiap kali makan.
“Tidak harus lengkap di setiap makan, yang penting terpenuhi dalam sehari,” kata Yesi.















