Ilustrasi Bank Dunia (Foto: dok PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Bank Dunia: Energi Tekan Ekonomi Asia

Bank Dunia: Energi Tekan Ekonomi Asia

PravadaNews – Bank Dunia memperingatkan risiko perlambatan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik akibat lonjakan harga energi yang dipicu ketegangan geopolitik global. Dalam laporan terbarunya, lembaga ini menilai tekanan eksternal tersebut berpotensi mengganggu pemulihan ekonomi kawasan dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang dirilis Rabu (8/4), Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan turun menjadi 4,2 persen pada 2026, dari 5,0 persen pada 2025. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya tekanan global, terutama dari sisi energi dan perdagangan.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menyebut konflik di Timur Tengah sebagai faktor utama yang mendorong lonjakan harga energi dunia.

“Konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga energi global yang kemudian menekan laju ekonomi kawasan,” kata Matto dalam taklimat media dikutip Kamis (9/4/2026).

Baca juga : OJK Siap Awasi Transformasi PNM Jadi Bank UMKM

Angle laporan ini menekankan bahwa tekanan eksternal kini menjadi faktor dominan yang menghambat pertumbuhan, melampaui tantangan domestik di banyak negara. Kenaikan harga energi dinilai tidak hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga memperburuk hambatan perdagangan dan meningkatkan ketidakpastian kebijakan global.

Bank Dunia memperkirakan lonjakan harga bahan bakar hingga 50 persen dapat memangkas pendapatan masyarakat sebesar 3–4 persen. Negara-negara yang bergantung pada impor energi disebut menjadi kelompok paling rentan terhadap guncangan ini.

Selain itu, laporan tersebut mencatat konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari telah memicu lonjakan tajam harga energi global. Indeks gas alam meningkat hingga 90 persen, sementara harga minyak mentah naik lebih dari 30 persen.

Dampaknya semakin kompleks karena kawasan Timur Tengah juga merupakan pemasok penting komoditas industri seperti pupuk, aluminium, dan petrokimia. Gangguan pasokan dari kawasan tersebut berpotensi memperluas tekanan terhadap ekonomi Asia Timur dan Pasifik.

Kendati demikian, Mattoo menilai respons kebijakan tetap menjadi faktor penentu.

“Dukungan yang terukur bagi masyarakat dan perusahaan dapat menyelamatkan lapangan kerja saat ini, sementara reformasi struktural dapat memicu pertumbuhan di masa depan,” ujar Mattoo.

Bank Dunia menekankan bahwa dampak guncangan harga energi tidak akan merata, melainkan sangat bergantung pada tingkat ketergantungan energi, kerentanan ekonomi, serta respons kebijakan masing-masing negara di kawasan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *