PravadaNews – Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie menilai hilangnya momentum di gim pertama menjadi faktor utama kekalahannya dari wakil India Ayush Shetty pada perempat final Badminton Asia Championships 2026 di Ningbo, China, Jumat.
Unggulan ketiga itu takluk dua gim langsung 21-23, 17-21, meski sempat unggul 20- terlebih dahulu pada gim pembuka. Jonatan menyebut kegagalan menutup gim tersebut menjadi titik balik yang memengaruhi jalannya pertandingan.
“Memang sangat disayangkan tadi di gim pertama sudah unggul 20 duluan tapi tidak bisa finis. Itu sangat krusial,” ujar Jonatan dalam keterangan resmi PP PBSI dikutip Sabtu (11/4/2026).
Baca juga : Atlet Indonesia Tolak Tawaran Naturalisasi dari Turki
Jonatan mengakui performanya menurun setelah kehilangan gim pertama, ditandai dengan meningkatnya kesalahan sendiri dan lambatnya respons untuk keluar dari tekanan lawan.
“Namanya pertandingan, kadang ada hari-harinya di mana kita melakukan kesalahan, tapi tadi kurang cepat untuk bangkitnya,” kata Jonatan.
Selain faktor internal, Jonatan juga menyoroti keunggulan fisik dan pola permainan lawan yang dinilai efektif menekan. Jonatan menyebut karakter permainan Ayush memiliki kemiripan dengan Viktor Axelsen, terutama dalam hal jangkauan dan kekuatan serangan.
“Dia pemain yang cukup tinggi, hampir mirip sama Viktor Axelsen, dan masih muda. Serangannya cukup baik,” ujar Jonatan.
Jonatan menambahkan, meski telah mempelajari permainan lawan sebelumnya, eksekusi di lapangan belum berjalan sesuai rencana. Kehilangan gim pertama disebut turut memengaruhi kepercayaan dirinya di gim kedua.
Kekalahan ini sekaligus memastikan langkah tunggal putra Indonesia terhenti di perempat final turnamen tersebut, menutup peluang meraih gelar pada sektor tersebut di BAC 2026.















