PravadaNews – Indonesia membutuhkan perluasan mitra energi ke Afrika saat pasokan minyak mentah menghadapi tekanan geopolitik global. Arah ini penting karena kebutuhan kilang nasional tidak cukup ditopang pemasok tradisional dan jalur Timur Tengah.
Data paparan Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) menunjukkan impor minyak mentah Indonesia pada 2025 mencapai 135,33 juta barel. Nigeria memasok 34,07 juta barel, Angola 28,50 juta barel, dan Gabon 8 juta barel.
Ketua Asosiasi Praktisi Hukum Migas dan Energi Terbarukan (APHMET) Didik Sasono menilai Afrika belum mendapat perhatian cukup.
“Import crude kita di tahun 2025 itu dari Nigeria dan Angola, selama ini kita dengan negara Afrika underestimate, padahal barang kita dari sana,” ujar Didik di Epiwalk, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).
Didik menempatkan data itu sebagai tanda perlunya perubahan orientasi kerja sama energi Indonesia. Hubungan energi tidak bisa hanya diarahkan ke Eropa, Timur Tengah, atau pasar besar lain.
Afrika memiliki posisi penting karena sebagian negara di kawasan itu telah menjadi pemasok minyak mentah Indonesia. Nigeria, Angola, dan Gabon dapat masuk dalam desain diversifikasi pasokan yang lebih terencana. Untuk itu, Didik mengajak asosiasi yang lainnya untuk mengubah orientasinya ke Afrika.
“Mari ASPEBINDO kita sekarang ubah orientasi kita, kita kuatkan lagi semangat Konferensi Asia Afrika,” jelas Didik.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) masih dipengaruhi geopolitik. ICP April 2026 naik menjadi USD117,31 per barel, lalu turun ke USD106,56 per barel pada Mei 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan, dinamika geopolitik ikut menentukan arah harga minyak dunia.
“Rata-rata ICP bulan Mei 2026 turun sebesar USD10,75 per barel dibandingkan bulan April 2026, dari USD117,31 per barel menjadi USD106,56 per barel,” ungkap Laode.
Seperti diketahui, pergerakan harga itu menunjukkan pasokan energi tetap rentan terhadap konflik, distribusi, dan keputusan politik global. Kondisi ini membuat diversifikasi sumber minyak mentah menjadi bagian penting dalam kebijakan ketahanan energi nasional.
Afrika perlu ditempatkan sebagai mitra strategis, bukan kawasan pinggiran dalam peta energi Indonesia. Kebijakan ini dapat memperkuat pasokan minyak mentah sekaligus membuka ruang diplomasi energi yang lebih seimbang.














