Dokumentasi Pasar Jengkol, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Daya Serap Pasar Lemah saat Harga Telur Turun

Daya Serap Pasar Lemah saat Harga Telur Turun

PravadaNews – Turunnya harga telur di tingkat peternak ternyata tidak serta-merta meningkatkan penjualan di pasaran. Peternak justru mengaku daya serap pasar melemah ketika harga telur berada di level rendah.

Salah seorang peternak ayam petelur, Kiki, mengatakan fenomena tersebut berbeda dengan yang selama ini diperkirakan. Menurutnya, permintaan telur justru lebih tinggi saat harga sedang mahal.

“Kalau untuk harga tinggi malah, kita kekurangan ya untuk telur. Untuk telur di harga tinggi tuh malah lebih laku,” kata Kiki saat ditemui di peternakannya, Rabu (15//7/2026).

Kiki mengaku hingga kini belum mengetahui penyebab pasti fenomena tersebut. Namun berdasarkan pengalamannya, penjualan telur justru melambat ketika harga turun ke level yang lebih murah.

“Saya juga bingung sampai sekarang, kenapa kok telur mahal malah laku tapi telur turun malah nggak laku. Maksudnya di daya serapasannya tuh berkurang untuk harga telur turun,” ujar Kiki.

Menurut Kiki, ketika harga telur menyentuh kisaran Rp28.000-Rp29.000 per kilogram, permintaan pasar justru meningkat tajam. Bahkan, stok telur di peternakannya kerap tidak mampu memenuhi kebutuhan pembeli.

“Tapi kalau telur udah naik di angka Rp28.000-Rp29.000 itu menurut saya laku keras,” tutur Kiki.

Kiki mengakui memang ada sebagian pelanggan yang menyampaikan keluhan ketika harga telur naik. Namun, jumlahnya tidak banyak dan pasar pada akhirnya tetap dapat menerima kenaikan harga tersebut.

“Tapi kalau di pelanggan ada beberapa yang ngeluh lah soal harga, kayak gitu kan, naik dan segala macam,” katanya.

Kiki menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya serap pasar terhadap telur tidak hanya dipengaruhi faktor harga. Menurutnya, permintaan justru lebih stabil ketika harga berada pada level yang lebih tinggi.

“Menurut saya sih lebih enakan telur tinggi ya harganya. Karena ya cepet lah. Daya serap masyarakatnya juga cepet,” ucap Kiki.

Kiki juga menilai harga yang lebih tinggi masih dapat diterima oleh sebagian besar konsumen. Karena itu, keluhan pelanggan selama ini dinilainya tidak terlalu signifikan.

“Menurut saya sih kalau untuk komplain-komplainan dari pelanggan sedikit ya. Tapi mereka juga bisa menerima kok, pasar juga bisa menerima,” pungkas Kiki.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *