PravadaNews – Kebiasaan menggunakan ponsel secara berlebihan, terutama untuk mengonsumsi berita negatif atau dikenal sebagai doomscrolling, dinilai dapat memperburuk kondisi kesehatan mental.
Asisten profesor psikiatri di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Naomi Dambreville, menyebut kebiasaan tersebut sering terjadi tanpa disadari dan memicu siklus emosi negatif.
“Ini memengaruhi perhatian, suasana hati, harga diri, dan bisa memicu iritabilitas, kecemasan, atau kemarahan,” kata Naomi, seperti dikutip dari New York Post, Selasa (14/4/2026).
Baca juga : 41,7% Warga Alami Osteopenia
Menurut Naomi, banyak orang awalnya membuka ponsel untuk mencari informasi, namun justru terpapar konten yang memicu perasaan buruk.
“Kondisi ini kemudian mendorong pengguna untuk terus melakukan scrolling, sehingga memperparah suasana hati,” tutur Naomi.
Naomi juga menyoroti bahwa paparan informasi negatif kerap muncul tanpa dicari.
“Kita mengambil ponsel untuk mencari update, tapi justru terpapar informasi traumatis atau menyedihkan secara real-time,” ujar Naomi.
Adapun fenomena ini terjadi di tengah tingginya intensitas penggunaan ponsel. Hampir setengah masyarakat Amerika disebut merasa kecanduan, dengan kebiasaan mengecek ponsel hingga ratusan kali per hari.
Naomi menegaskan bahwa kecanduan tidak hanya berkaitan dengan zat, tetapi juga perilaku. Penggunaan ponsel yang kompulsif dan rasa gelisah saat jauh dari perangkat menjadi tanda utama ketergantungan.
“Kecanduan ponsel ditandai dengan penggunaan yang kompulsif dan berlebihan, serta merasa kehilangan kendali atau gelisah saat jauh dari ponsel,” kata Naomi.
Selain berdampak pada mental, kata Naomi, penggunaan berlebihan juga memicu gejala fisik seperti sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, hingga nyeri pada tangan akibat penggunaan berkepanjangan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Naomi menyarankan detoks digital sebagai langkah awal. Naomi menyebut pengurangan waktu layar secara aktif dapat meningkatkan fokus, kontrol diri, hingga kemampuan sosial.
Namun, Naomi mengingatkan proses tersebut tidak selalu mudah.
“Otak kita menyukai kestabilan, jadi tidak selalu merespons perubahan dengan baik meskipun itu baik untuk kita,” ujar Naomi.
Menurut dia, detoks digital juga bisa memunculkan efek samping seperti rasa bosan, cemas, hingga dorongan kuat untuk kembali menggunakan ponsel.















