PravadaNews – Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat DPR RI, Adian Napitupulu mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang memangkas potongan tarif ambang batas aplikator ojek online (ojol) dari 20% menjadi 8%.
Adian menilai, keputusan itu hadiah dari Presiden Prabowo terhadap perjuangan pengemudi ojol. Sebab, penurunan pemotongan itu sebelumnya telah diperjuangkan oleh para ojol dengan proses penyampaian aspirasi ke DPR RI.
“Dalam konteks persentase tersebut, seluruh driver ojol saya lihat senang,” kata Adian dikutip Jumat (8/5/2026).
Adian menyebut pengemudi ojol menuangkan kesenangan itu dengan menggelar kegiatan syukuran usai pemerintah resmi menetapkan potongan tarif turun menjadi 8%.
Baca Juga: Industri Baja Nasional Tertekan Produk Impor China
Selain itu, Adian mengatakan, keputusan Prabowo menurunkan pemotongan 8% itu patut diapresiasi, lantaran lebih rendah dari pengemudi ojol sebelumnya yakni 10%.
“Semula mereka memperjuangkan 10%, ternyata diputuskan lebih rendah. Itu dianggap sebagai kemenangan perjuangan mereka,” terang Adian.
Pun Adian menyoroti langkah pemerintah yang resmi membeli sebagian saham perusahaan aplikator.
Adian menekankan agar pemerintah tak lebih jauh menjadi pemain baru di industri transportasi online.
Adian meminta agar pemerintah tidak terlibat dalam relasi bisnis dan berfokus dalam bentuk pengawasan serta perlindungan kesejahteraan para pengemudi ojol.
“Kehadiran negara penting untuk kesejahteraan pekerja, khususnya pengemudi transportasi daring. Tapi cukup sebatas kepemilikan saham saja,” tutup Adian.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam pidato di Hari Buruh Internasional atau May Day mengaku telah menandatangani aturan baru terkait aturan pemotongan tarif ojol.
Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online.
Aturan ini menegaskan kewajiban pemberian jaminan kecelakaan kerja bagi para pengemudi, yang selama ini dinilai menghadapi risiko sangat tinggi di lapangan.
Prabowo turut menyoroti mengenai skema pembagian pendapatan antara operator perusahaan aplikasi dan pengemudi ojol.
Prabowo menyatakan, pemerintah mendorong perubahan komposisi pemotongan tarif pendapatan per order atau pemesanan dari yang sebelumnya sekitar 20% ke perusahaan menjadi 8%.
Prabowo menyinggung perilaku perusahaan yang dianggap terlalu besar memotong tarif pendapatan pengemudi.
Skema pemotongan itu tidak adil dan perlu direvisi ulang dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.
“Ojol kerja keras, mempertaruhkan nyawanya setiap hari, tapi operator minta disetor 20%. Setuju tidak?” kata Prabowo di hadapan massa buruh.
Seruan itupun dijawab dengan penolakan oleh peserta yang hadir. Prabowo kemudian mengajukan opsi lain, mulai dari 15% hingga 10%, yang juga turut ditolak oleh massa yang hadir.
Prabowo pun kembali melontarkan pertanyaan kepada ribuan massa aksi, khususnya para pengemudi trasnportasi online.
“Operator atau perusahan minta disetor 20%, gimana ojol setujukah 20%?” tanya Prabowo.
“Tidak setuju,” sorak massa aksi.
“Bagaimana kalau 15%?” ucap Prabowo.
“Tidak setuju,”
Dalam kesempatan itu, Prabowo sempat berkelakar bahwa dirinya tidak setuju dengan aspirasi yang disampaikan oleh pengemudi ojol dengan potongan sebesar 10%.
Prabowo menegaskan, pihaknya justru malah meminta potongan operator ke pengemudi ojol harus di bawah 10% yakni sebesar 8&. Sontak ucapan Prabowo itu pun disambut hangat para pengemudi ojol.
“Kalian minta 10%? Iyaa, saya katakan disini, saya tidak setuju 10%, karena harus di bawah 10%,” tegas Prabowo.
“Tidak adil kalau yang berkeringat adalah pengemudi, tapi yang menikmati keuntungan besar adalah perusahaan,” ujar Prabowo.
Prabowo menegaskan penetapan Perpres Nomor 27 tahun 2025 tentang Transportasi Online itu dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk mensejahterakan pengemudi ojol.
Prabowo menambahkan, perusahaan operator transportasi online yang tidak bersedia mengikuti ketentuan tersebut dipersilakan tidak beroperasi di Indonesia.
“Enak aja lu, yang keringet die, yang dapet duit. Kalau gak mau ikut kita enggak usah berusaha di Indonesia,” tutup Prabowo.















