PravadaNews – Iran kembali kehilangan tokoh penting di tengah eskalasi konflik kawasan. Setelah kematian pemimpin tertinggi Ali Khamenei pada akhir Februari lalu, pemerintah Iran melaporkan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani turut tewas dalam serangan terbaru yang dikaitkan dengan Israel.
Kematian Larijani dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (18/3/2026). Larijani dilaporkan tewas dalam serangan semalam di tengah konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Larijani terakhir kali terlihat di hadapan publik saat parade Hari Al-Quds di Teheran pada Jumat pekan lalu. Setelah wafatnya Khamenei, Larijani sempat menyampaikan pidato keras pada 1 Maret 2026. Dalam pernyataannya, Larijani menegaskan Iran akan membalas tindakan Amerika Serikat dan Israel.
“Amerika dan rezim Zionis telah membakar hati bangsa Iran. Kita akan membuat mereka menyesali perbuatannya,” ujar Larijani saat itu.
Baca juga: Prancis Tak Terlibat di Selat Hormuz
Selain Larijani, Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani juga dilaporkan tewas dalam serangan yang sama. Ia diketahui menjabat sebagai kepala pasukan paramiliter Basij Iran.
Larijani merupakan salah satu figur berpengaruh dalam politik Iran selama beberapa dekade. Lahir pada 3 Juni 1958, ia telah lama berada di lingkar kekuasaan, termasuk terlibat dalam pengelolaan krisis pascarevolusi 1979.
Larijani juga berperan dalam dewan transisi pemerintahan setelah kematian Khamenei, memperkuat posisinya sebagai tokoh kunci dalam stabilitas politik Iran.
Dari sisi keluarga, Larijani berasal dari lingkungan elite religius. Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, dikenal sebagai cendekiawan agama terkemuka. Ia juga terhubung dengan lingkaran pendiri Republik Islam Iran melalui pernikahannya dengan Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari, yang merupakan orang dekat Ruhollah Khomeini.
Larijani sempat mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005, meski gagal melaju ke putaran kedua. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus menjadi negosiator utama program nuklir Iran.
Kematian beruntun dua tokoh strategis dalam waktu singkat memunculkan kekhawatiran akan krisis kepemimpinan di Iran. Di sisi lain, serangan yang menewaskan Larijani dan Soleimani menandai meningkatnya intensitas konflik yang kini melibatkan aktor-aktor besar di kawasan.















