PravadaNews – Di tengah nilai ekspor crude palm oil (CPO) yang masih tumbuh, Indonesia justru menghadapi risiko kehilangan peluang pendapatan hingga USD 718,5 juta dari sektor sawit.
Temuan itu muncul dalam kajian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengenai produktivitas petani sawit swadaya. CIPS mencatat peluang pendapatan ekspor tersebut dapat hilang apabila hambatan produksi di tingkat petani tidak segera dibenahi.
Dalam kajian yang sama, tambahan produksi CPO sebesar 4,73 juta ton juga belum dapat diraih secara optimal. Kondisi ini menunjukkan ruang ekspor di pasar global belum otomatis berubah menjadi penerimaan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Kementerian Pertanian menunjukkan nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari-Februari 2026 mencapai USD 4,69 miliar. Nilai itu naik 26,40% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 3,71 miliar.
BPS juga mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai USD 92,15 miliar, naik 5,48% secara tahunan. Dalam struktur perdagangan seperti ini, CPO masih menjadi bagian penting dari ekspor nonmigas Indonesia.
Lebih lanjut, Peneliti Senior dan Analis Kebijakan CIPS, Rahmad Supriyanto mengatakan, produktivitas petani sawit swadaya masih tertahan oleh hambatan mendasar.
“Kecuali kendala-kendala utama seperti penanaman kembali, pembiayaan, legalitas lahan, dan penguatan kelembagaan diatasi, Indonesia akan terus kehilangan peluang untuk meraih keuntungan ekonomi yang lebih tinggi dari sektor kelapa sawit,” kata Rahmad dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2026) lalu.
Studi CIPS mencatat petani sawit swadaya mengelola sekitar 41% dari total luas perkebunan sawit nasional. Kelompok tersebut juga menyumbang sekitar 35-40% produksi tandan buah segar (TBS) Indonesia.
Namun, produktivitas petani sawit swadaya baru mencapai sekitar 26,5% dari potensi maksimal yang dapat dicapai. Kesenjangan ini membuat kenaikan ekspor CPO belum sepenuhnya menggambarkan kekuatan produksi di kebun rakyat.
CIPS juga melaporkan sekitar 2,4 juta petani masih mengelola tanaman sawit berusia lebih dari 25 tahun. Pada fase itu, hasil tanaman tidak lagi optimal sehingga tambahan produksi CPO berpotensi tertahan sejak dari hulu.
Kondisi di tingkat kebun menjadi penting karena Indonesia memiliki posisi besar dalam pasar sawit dunia. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menilai, pasokan Indonesia masih berpengaruh terhadap perdagangan sawit global.
“Ya karena Indonesia produsen terbesar kan Indonesia dan Malaysia itu menguasai kira-kira 75-80% dari pasar sawit dunia,” kata Khudori kepada PravadaNews, dikutip Sabtu (27/6).
Menurutnya, perubahan pasokan dari Indonesia dapat memengaruhi pergerakan harga sawit di pasar internasional. Faktor ini membuat kebijakan produksi, ruang ekspor, hingga serapan domestik perlu dibaca dalam satu rantai perdagangan CPO.
Harga CPO juga bergerak di tengah persaingan dengan minyak kedelai, bunga matahari, dan rapeseed sebagai minyak nabati alternatif. Dalam situasi itu, peluang ekspor CPO senilai USD 718,5 juta bergantung pada kemampuan menjaga pasokan dan daya saing sawit Indonesia.















