Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono (kedua dari kiri) saat ditemui di Jakarta. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Ekspor RI ke Afrika Naik di Tengah Ketidakpastian

Ekspor RI ke Afrika Naik di Tengah Ketidakpastian

PravadaNews – Akses pasar ekspor Indonesia ke Afrika diperkuat Kementerian Perdagangan (Kemendag) ketika ketidakpastian kebijakan perdagangan dan tensi geopolitik masih membayangi perdagangan dunia. Diketahui, ekspor nasional ke kawasan tersebut tumbuh sekitar 33,9% sepanjang 2025.

Langkah itu dilakukan Kemendag melalui kemitraan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika yang kembali dibahas dalam South-South and Triangular Cooperation (SSTC) on Trade and Investment Promotion for African Countries 2026 di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono, mengatakan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah membahas dan merundingkan sejumlah kerja sama perdagangan dengan negara-negara Afrika, termasuk melalui Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement (PTA).

Perluasan hubungan dagang ini juga diarahkan untuk membuka kerja sama investasi dengan memanfaatkan potensi pasar dan sumber daya yang dimiliki negara-negara Afrika.

“Afrika merupakan kawasan yang sangat potensial, baik dari sisi jumlah penduduk, perdagangan, investasi, maupun sumber daya yang dimiliki. Melalui SSTC, kami berharap hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika makin erat serta berkembang menjadi kerja sama yang lebih strategis dan komprehensif,” kata Djatmiko.

Untuk memperluas akses pasar, Kemendag juga mengandalkan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di Johannesburg dan Lagos serta Atase Perdagangan RI di Kairo sebagai penghubung pelaku usaha Indonesia dengan pasar di kawasan Afrika.

“Dengan keberadaan ketiga perwakilan perdagangan Indonesia ini, kita harapkan dapat memberikan daya dukung agar kita bisa semakin kencang mempromosikan produk-produk berpotensi Indonesia di Afrika. Sudah banyak sekali produk Indonesia yang diterima dan masuk ke pasar Afrika, mulai dari makanan olahan, alas kaki, tekstil, kertas, bahkan otomotif juga sudah mulai masuk ke pasar Afrika,” lanjut Djatmiko.

Dorongan memperluas pasar tersebut berjalan seiring dengan kenaikan ekspor Indonesia ke Afrika yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai US$8,49 miliar pada 2025, meningkat sekitar 33,9% dibandingkan US$6,34 miliar pada 2024.

Pada periode yang sama, impor Indonesia dari Afrika turun dari US$9,39 miliar menjadi US$8,72 miliar sehingga total perdagangan barang kedua kawasan mencapai sekitar US$17,21 miliar, sedangkan Kemendag mencatat ekspor ke Afrika Barat tumbuh 56,66% sepanjang 2025.

Hubungan bisnis dengan Afrika juga mulai menjangkau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), setelah Indonesia-Africa Forum (IAF) 2024 menghasilkan 32 kerja sama bisnis senilai lebih dari US$3,5 miliar dan 16 di antaranya merupakan kesepakatan antara UMKM Indonesia dengan perusahaan Afrika.

Peluang itu muncul ketika perdagangan dunia masih menghadapi tekanan, meski UN Trade and Development (UNCTAD) mencatat perdagangan antarnegara berkembang atau South-South tumbuh sekitar 9% pada 2025 dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mencatat Goods Trade Barometer berada di level 102 pada September 2026. WTO tetap memperkirakan volume perdagangan barang dunia hanya tumbuh 1,9% tahun ini di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan dan tensi geopolitik.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *