PravadaNews – Aktivitas seismik kembali mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (27/8/2026) sore.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 terjadi pada pukul 17.33.25 WIB, dengan getaran yang berpusat di wilayah laut sekitar Flores.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episenter gempa berada pada koordinat 8,10 derajat Lintang Selatan dan 120,10 derajat Bujur Timur.
Pusat gempa berada sekitar 49 kilometer timur laut Labuan Bajo dengan kedalaman 13 kilometer.
Meski mengguncang wilayah Flores, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengatakan, gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
“Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust,” kata Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap BMKG, gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI di Macang Pacar dan Boleng, Manggarai Barat. Pada skala tersebut, getaran pada siang hari dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah.
Sementara itu, intensitas III MMI dirasakan di Reok Barat, Manggarai. Getaran pada skala III MMI terasa nyata di dalam rumah dan dirasakan seperti truk yang sedang melintas.
BMKG menyatakan gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58.23 WIB.
Hingga Kamis (27/8/2026) pukul 17.45 WIB, BMKG mencatat sebanyak 8.486 aktivitas gempa bumi susulan. Magnitudo terbesar dari gempa susulan tersebut mencapai 6,2.
“BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat,” kata Wijayanto.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa bumi untuk mengantisipasi risiko keselamatan.















