Penjual daging ayam di Pasar Kemiri, Depok, Jawa Barat. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Harga Ayam Awal Agustus dalam Pantauan Pemerintah

Harga Ayam Awal Agustus dalam Pantauan Pemerintah

PravadaNews – Harga daging ayam ras mulai menjadi perhatian pada awal Agustus 2026 setelah kenaikannya terlihat di sejumlah daerah. Meski belum melonjak tinggi, pergerakannya cukup cepat hingga masuk dalam pemantauan pemerintah.

Bagi masyarakat, perubahan itu belum berarti harga ayam tiba-tiba jauh lebih mahal. Namun, kenaikan yang muncul menjadi sinyal salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi ini perlu dijaga agar tidak terus menanjak.

Hingga Kamis (13/8/2026) pukul 09.30 WIB, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) mencatat rata-rata harga daging ayam ras segar sebesar Rp39.600 per kilogram. Angka itu mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen sebesar Rp40.000 per kilogram.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti sebelumnya menempatkan daging ayam ras sebagai salah satu komoditas yang perlu dicermati pada pekan pertama Agustus.

“Terutama ini yang perlu kita waspadai nanti adalah kelompok daging ayam ras dan daging sapi yang memang mengalami kenaikan harga hampir di seluruh provinsi yang mengalami kenaikan IPH,” tegas Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (10/8/2026).

Padahal, BPS mencatat perkembangan harga lebih banyak menurun pada periode tersebut. Sebanyak 161 kabupaten/kota mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH), sedangkan kenaikan terjadi di 65 kabupaten/kota.

Penurunan juga tercatat di 21 provinsi. Namun, daging ayam ras tetap muncul sebagai penyumbang kenaikan di beberapa wilayah yang belum mengikuti kecenderungan tersebut.

Di Sumatra, daging ayam ras menjadi perhatian bersama beras. Sementara di Jawa serta wilayah luar Jawa dan Sumatra, komoditas ini muncul bersama daging sapi sebagai penyumbang kenaikan IPH.

Pergerakan itu bukan baru terlihat pada Agustus. Daging ayam ras sebelumnya juga memberikan andil terhadap inflasi tahunan kelompok harga bergejolak pada Juli 2026.

“Untuk daging ayam ras level harganya masih relatif rendah tetapi perubahan IPH-nya relatif tinggi,” kata wanita yang akrab disapa Winny.

Meski harga mulai bergerak, pasokan nasional belum menunjukkan kekurangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkirakan produksi daging ayam ras Januari–Juli 2026 mencapai 2,93 juta ton, sedangkan kebutuhan sekitar 2,34 juta ton.

Kecukupan pasokan membuat pengendalian harga tidak semata bergantung pada jumlah daging ayam yang tersedia. Pemerintah juga perlu menjaga harga konsumen tanpa kembali menekan usaha peternak.

“Tugas pemerintah adalah menjaga keseimbangan agar harga tidak melonjak terlalu tinggi, namun juga tidak jatuh terlalu rendah,” jelas Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (13/8).

Menjelang pertengahan Agustus, kenaikan daging ayam ras masih berada dalam pantauan sebelum berkembang lebih luas. Pemerintah perlu menjaga pergerakannya tetap terkendali sekaligus mempertahankan harga yang layak bagi peternak.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *