Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti. (Foto: Dok. BPS)

Beranda / Ekonomi / Harga Beras dan Minyak Goreng belum Jinak

Harga Beras dan Minyak Goreng belum Jinak

PravadaNews – Redanya tekanan harga pangan belum sepenuhnya meringankan pengeluaran rumah tangga karena harga beras dan minyak goreng masih bertahan pada level tinggi.

Memasuki Agustus, pergerakan harga memang mulai melandai di banyak daerah. Namun, dua komoditas tersebut belum seluruhnya kembali ke batas harga yang ditetapkan pemerintah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti melihat kondisi itu di tengah deflasi 0,14% secara bulanan pada Juli 2026. Secara tahunan, inflasi nasional pada periode yang sama tercatat 2,88%.

“Kalau kita lihat beras dan minyak goreng ini level harganya relatif tinggi, di atas HET-nya untuk minyak goreng dan beras juga ada beberapa yang sudah di atas HET-nya,” kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (10/8/2026).

Gambaran ini muncul ketika Indeks Perkembangan Harga (IPH) justru turun di lebih banyak wilayah pada minggu pertama Agustus. Sebanyak 161 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH, sedangkan kenaikan terjadi di 65 kabupaten/kota.

Beras masih menjadi salah satu komoditas yang perlu diperhatikan di Sumatra meski pergerakan harga secara umum mulai mereda.

“Kebanyakan komoditas perubahan IPH-nya masuk dalam level rendah, tapi ada beberapa komoditas yang perlu kita perhatikan karena level harganya sudah relatif sedang dan tinggi,” lanjut wanita yang akrab disapa Winny.

Kondisi tersebut masih terlihat menjelang pertengahan Agustus. Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan mencatat Minyakita Rp15.865 per liter, beras premium Rp15.546 per kilogram, dan beras medium Rp13.869 per kilogram pada 12 Agustus.

Harga Minyakita itu masih Rp165 lebih tinggi dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Sementara pada beras, HET berbeda menurut wilayah sehingga persoalannya terlihat dari masih adanya daerah yang menjual di atas batas zonanya.

Tekanan pada dua komoditas ini sebelumnya juga dibaca Center of Food, Energy, and Sustainable Development (CFESD) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

INDEF mencatat harga beras pada 30 Juni lalu berada di Rp16.100 per kilogram atau naik 4,21% secara tahunan. Pada periode yang sama, minyak goreng berada di Rp22.950 per liter atau meningkat 9,29% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Libur sekolah hanya memberikan efek terbatas terhadap stabilisasi harga pangan, sehingga pengendalian pasokan tetap menjadi kunci menjaga inflasi pangan dan keberlanjutan biaya program MBG,” tulis INDEF dalam kajiannya, dikutip Kamis (13/8).

Di sisi beras, INDEF melihat besarnya pengadaan pemerintah masih menyisakan pekerjaan pada pengelolaan stok dan distribusi menuju daerah yang kekurangan pasokan. 

Karena itu, manfaat cadangan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya beras yang terserap, tetapi juga ketepatan penyalurannya.

Dengan tekanan harga yang mulai melandai tetapi level beras dan minyak goreng belum seluruhnya kembali ke acuan, tantangan stabilisasi bergeser pada pasokan dan distribusi. 

Perubahan IPH yang rendah baru menjadi kabar baik bagi konsumen apabila harga yang ditemui di pasar ikut bergerak mendekati batas yang ditetapkan pemerintah.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *