Foto Kolase: Kerusakan bangunan yang terdampak gempabumi M7,7 di Kabupaten Manggarai Timur (atas) dan Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara dari Badan Gizi Nasional (BGN) di Lapangan Monas.

Beranda / Nasional / Hari Merdeka Mereka Berduka

Hari Merdeka Mereka Berduka

PravadaNews – 17 Agustus menjadi tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI). Kini Indonesia sudah berumur 81 tahun sejak merdeka pada 17 Agustus 1945.

Acara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta, begitu megah nan mewah. Tersorot kamera di segala arah untuk disajikan kepada masyarakat yang tidak bisa hadir secara langsung melalui siaran televisi.

Kegiatan upacara HUT ke-81 RI juga dihadiri para pejabat tinggi kementerian/lembaga (K/L) serta pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan masyarakat umum. Acara berlangsung khidmat.

76 anggota Paskibraka yang bertugas pada upacara HUT ke-81 RI di Istana berhasil menjalankan tugasnya. Keberhasilan itu tercipta karena jerih payang mereka yang terus berlatih menjelang hari kemerdekaan.

Selepas kegiatan upacara HUT RI di Istana Merdeka, pemerintah menggelar Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara yang berlangsung di Lapangan Monas. Acara tersebut dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Pada acara tersebut, masing-masing kementerian dan lembaga menampilkan karyanya masing-masing. Mereka menghias truk berukuran besar yang di paradekan dihadapan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran serta masyarakat.

Rangkaian HUT RI yang meriah itu tentu menghabiskan anggaran negara yang cukup besar. Untuk perayaan HUT ke-81 RI belum dirilis oleh pemerintah. Namun, anggaran HUT RI pada tahun 2023 kurang lebih sebesar Rp53 miliar. Kemudian untuk tahun 2024 sekitar Rp87 miliar.

Di samping HUT RI di Istana yang megah nan mewah, ada cerita duka yang belum reda. Warga NTT yang terdampak bencana gempa bumi magnitudo 7,7 tidak bisa merayakan HUT RI dengan riang gembira. Rumah mereka hancur. Bertahan di pengungsian. Gempa itu terjadi pada Sabtu (15/8/2026) dini hari.

Gempa yang terjadi telah merusak ribuan rumah warga. Berdasarkan data sementara yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 1.543 rumah alami ruak berat, 328 rumah rusak sedang, dan 532 rumah rusak ringan.

Tidak hanya itu, fasilitas publik juga alami kerusakan. 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, dan 76 kantor pemerintahan juga turut terdampak gempa.

Korban jiwa akibat bencana gempa NTT juga terus bertambah. Per hari ini, jumlah korban menjadi 68 jiwa. Rinciannya, Kabupaten Manggarai 26 jiwa, Kabupaten Manggarai Timur 24 jiwa, Kabupaten Nagekeo 8 jiwa, Kabupaten Sikka 4 jiwa, Kabupaten Ende 2 jiwa, Kabupaten Manggarai Barat 2 jiwa, dan Kabupaten Ngada 2 jiwa.

“Kami tetap memantau perkembangan jumlah korban ini dan terus kami akan melaporkan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan saat konferensi pers yang dipantau melalui YouTube BNPB, Senin (17/8/2026).

Kerusakan bangunan rumah warga yang terdampak gempabumi M7,7 di Kabupaten Manggarai. Foto: Dok. BPBD Kabupaten Manggarai

Di sisi lain, peringatan HUT juga diseleggarakan di lokasi bencana. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyatakan, kehadiran jajaran menteri dan pimpinan lembaga di NTT sejak hari pertama kejadian merupakan bentuk kepedulian serta komitmen pemerintah untuk mendampingi masyarakat terdampak.

“Sejak hari pertama kejadian, kita sudah berada di NTT untuk meninjau lapangan dan membahas percepatan pemulihan,” ujar Menko PMK Pratikno usai mengikuti Upacara Bendera HUT ke-81 RI di Ruteng.

Pratikno menambahkan, penanganan darurat dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi di berbagai titik terdampak. Jajaran pemerintah membagi tugas menyisir wilayah yang membutuhkan bantuan cepat, seperti pergerakan bantuan logistik menuju Kecamatan Reo di Manggarai hingga wilayah terisolir di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka.

Koordinasi intensif juga terus dilakukan bersama Satuan Tugas (Satgas) DPR RI serta kementerian/lembaga terkait melalui sistem luring maupun video conference guna memastikan masa tanggap darurat berjalan efektif.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI, Suharyanto membeberkan kesiapan strategi serta pengerahan sumber daya logistik dan armada penanganan di lapangan.

Suharyanto menjelaskanm, Posko Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, telah menampung dan menyalurkan bantuan logistik, termasuk 50.000 paket bantuan dari Presiden RI. Bantuan tersebut diteruskan ke dua posko utama di NTT, yakni Posko Labuan Bajo dan Posko Maumere.

Logistik dari Posko Utama Labuan Bajo dikerahkan untuk melayani wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Sementara Posko Maumere melayani Kabupaten Sikka, Ende, dan Nagekeo.

Untuk menembus kendala geografis dan wilayah terisolir, BNPB bersama unsur gabungan menyiagakan armada darat, laut, dan udara secara maksimal.

Pada jalur udara, disiagakan 6 pesawat di Labuan Bajo dan 5 pesawat di Maumere, termasuk helikopter pendukung untuk evakuasi medis darurat.

Pemerintah juga menyiapkan anggaran untuk penanganan bencana gempa di NTT sebesar Rp5 triliun yang dialokasikan melalui BNPB.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, dukungan anggaran itu disesuaikan dengan kebutuhan penanganan bencana di lokasi kejadian.

“Untuk pertama kan biasanya kita pakai dana dari BNPB yang sudah kita siapkan. Masih ada tuh Rp5 triliun kalau enggak salah ya. Mungkin sebagian terpakai, tapi masih cukup,” kata Purbaya.

Purbaya menekankan bahwa pemerintah akan memberikan perhatian khusus terhadap penanganan bencana. Purbaya memastikan, jika kebutuhan dana dari BNPB kurang akan langsung ditambah oleh Kementerian Keuangan.

“Biasanya kalau kurang kita isi langsung itu dana BNPB,” kata Purbaya. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk penanganan bencana dan pembangunan fasilitas umum.

Sekadar informasi, gempa dengan kekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) dini hari. BMKG mencatat ada 1.598 gempa susulan di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Senin (17/8/2026) pagi pukul 07.00 WIB.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *