PravadaNews — Permintaan daging ayam ras meningkat di sejumlah daerah seiring banyaknya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut ikut membuat komoditas daging ayam ras kembali memberikan andil terhadap inflasi nasional sepanjang September 2026.
“Terjadi peningkatan daging ayam ras pada kondisi September tahun 2026, antara lain didorong oleh kebutuhan program MBG di beberapa daerah serta juga adanya kenaikan harga pakan ternak,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dikutip Minggu (4/10/2026).
Ateng memaparkan, komoditas daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month to month/mtm). Kenaikan ini turut menempatkan daging ayam ras sebagai salah satu komoditas utama pendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang secara keseluruhan mengalami inflasi sebesar 0,88% dengan andil 0,26%.
“Inflasi September tahun 2026 yang sudah saya sebutkan tadi yaitu 0,30% utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 1,46%. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar, yaitu andilnya 0,24%,”
Namun, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai kenaikan harga masih dalam batas wajar. Namun, pemerintah menyiapkan subsidi biaya angkut untuk mengantisipasi lonjakan harga di daerah yang pasokan ayamnya terbatas.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan mengatakan peningkatan kebutuhan menjadi salah satu faktor yang mendorong harga ayam di sejumlah wilayah. Menurut Hermawan, kondisi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh daerah.
“Ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan,” kata Hermawan di Jakarta, dikutip Minggu (4/10/2026).
Hermawan menjelaskan daerah yang mengalami kenaikan harga umumnya bukan merupakan sentra produksi ayam ras. Kondisi tersebut membuat biaya distribusi dari daerah produsen menjadi salah satu persoalan dalam menjaga stabilitas harga.
Karena itu, Bapanas membuka opsi memberikan subsidi biaya angkut bagi daerah yang membutuhkan pasokan dari sentra produksi. Pemerintah daerah yang mengalami kekurangan pasokan dapat mengajukan dukungan distribusi tersebut kepada Bapanas.
“(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah,” ujar Hermawan.
Berdasarkan pemantauan Bapanas, harga daging ayam ras secara nasional per 2 Oktober 2026 berada di level Rp40.961 per kilogram. Harga tersebut turun 0,62 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp41.218 per kilogram.
Jika dibandingkan dengan sebulan sebelumnya, harga daging ayam juga turun 0,82 persen. Pada periode tersebut, rata-rata harga berada di Rp41.300 per kilogram.
Kondisi harga saat ini berbeda dengan yang terjadi pada April dan Mei 2026. Pada April, daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 6,20 persen, kemudian kembali mencatat deflasi 3,83 persen pada Mei.
Penurunan harga tersebut turut berdampak terhadap peternak unggas. Indeks harga yang diterima petani unggas yang sempat mencapai 138,19 pada Maret 2026 turun menjadi 132,22 pada April dan 130,57 pada Mei.
Indeks tersebut kembali turun menjadi 127,23 pada Juni dan 127,02 pada Juli. Namun, kondisi mulai membaik pada Agustus dan September dengan masing-masing mencapai 132,43 dan 134,99.
Di tengah peningkatan permintaan, pemerintah memastikan ketersediaan daging ayam ras masih mencukupi hingga akhir 2026. Proyeksi stok daging ayam ras diperkirakan dapat mencapai sekitar 1 juta ton.
Proyeksi tersebut berasal dari stok awal tahun sebesar 200 ribu ton ditambah estimasi produksi dalam negeri sepanjang tahun yang mencapai 4,7 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional diperkirakan sekitar 3,9 juta ton.
Meski terdapat surplus, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan harga dari tingkat peternak hingga konsumen. Intervensi distribusi di hilir juga diikuti kebijakan di sisi hulu untuk menjaga biaya produksi peternak.
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah yakni melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Program tersebut ditujukan untuk memastikan peternak unggas memperoleh bahan baku pakan dengan harga yang lebih ekonomis.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Amran Sulaiman menginstruksikan Perum Bulog melanjutkan penyaluran jagung pakan melalui program SPHP. Alokasi program tersebut juga direncanakan mendapat tambahan 150 ribu ton.
“Menambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih. Titik,” ujar Amran.















