PravadaNews – Ada kalanya pekerjaan bukan benar-benar sulit, tetapi terasa begitu berat untuk sekadar dimulai. Layar komputer sudah menyala, tugas telah terbuka, bahkan tenggat waktu terus mengingatkan.
Namun, tangan justru sibuk menggulir media sosial, menonton video, atau mengerjakan hal-hal lain yang sebenarnya tidak mendesak. Tanpa disadari, waktu berlalu dan pekerjaan tetap berada di tempat yang sama.
Kebiasaan menunda pekerjaan seperti ini dikenal sebagai prokrastinasi. Seseorang dengan sengaja menangguhkan tugas meski mengetahui keputusan tersebut dapat membawa konsekuensi.
Bukan sekadar persoalan malas, prokrastinasi kerap muncul ketika seseorang berhadapan dengan pekerjaan yang membosankan, terasa sulit, atau justru menimbulkan tekanan.
Menariknya, semakin dekat tenggang waktu, rasa cemas biasanya semakin besar. Namun, alih-alih segera menyelesaikan pekerjaan, sebagian orang justru kembali mencari kesibukan lain sebagai pelarian.
Siklus menunda, merasa bersalah, lalu kembali menunda pun terus berulang.
Melansir dari situs American Psychogical Association, prokrastinasi tidak selalu mengindikasikan orang tersebut pemalas atau tidak dapat mengatur waktu.
Kebiasaan menunda memiliki keterkaitan erat dengan cara seseorang mengelola emosi negatif yang timbul ketika dihadapi oleh suatu tugas.
Tugas yang menimbulkan rasa frustrasi, cemas, bosan, atau bahkan khawatir gagal cenderung lebih mudah dihindari. Saat memilih mengerjakan aktivitas lain, seseorang biasanya merasakan lega dalam jangka pendek walaupun pekerjaan utama masih belum diselesaikan.
Keadaan tersebut bisa membentuk pola yang berulang dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kamu merasa tidak nyaman melihat tugas, lalu menundanya agar merasa lega, kemudian kembali tertekan saat deadline mendekat.
Dikutip dari APA Dictionary of Psychology, prokrastinasi berbeda dengan menunda pekerjaan secara sengaja karena alasan yang jelas.
Menyusun rencana, menunggu datangnya informasi penting, atau beristirahat bukan tergolong prokrastinasi bila penundaan tersebut memiliki tujuan jelas.
Langkah pertama untuk mengurangi kebiasaan tersebut adalah mengetahui emosi yang muncul sebelum melakukan pekerjaan.
Alih-alih langsung menghindari tugas, kita bisa mengakui rasa ketidaknyamanan tersebut dan mencari cara untuk menghadapinya.
Membagi pekerjaan menjadi langkah-langkah yang lebih kecil juga bisa membantu mengurangi beban psikologis saat dihadapkan oleh pekerjaan besar.
Memulai dari satu aksi sederhana membuat pekerjaan terasa lebih mudah dikerjakan daripada membayangkan tugas secara keseluruhan.
Di samping itu, seseorang juga harus menghindari kebiasaan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan setelah menunda-nunda pekerjaan.
Penelitian yang dibahas oleh APA menunjukkan memaafkan diri sendiri justru bisa membantu seseorang mengurangi mengulangi kebiasaan menunda.
Menurut Acta Psychologica Sinica, merubah cara pandang terhadap pekerjaan juga bisa dijadikan taktik selanjutnya.
Penelitian menandakan pengelolaan emosi melalui penilaian ulang dengan cara positif mampu menurunkan rasa tidak menyenangkan terhadap tugas dan membantu mengurangi prokrastinasi.
Jadi, mengatasi kecenderungan menunda bukan sekadar soal memaksa diri agar bekerja lebih keras lagi.
Melainkan melalui cara-cara yang sudah disebutkan sebelumnya, kita bisa membantu seseorang untuk keluar dari siklus tersebut.














