PravadaNews – Momen libur sekolah tidak semata-mata dapat mendongkrat penjualan ritel di pasar modern atau pusat perbelanjaan. Transaksi di mal terkonsentrasi pada pembelian makanan, minuman, dan hiburan.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat kunjungan masyarakat ke mal cukup stabil. Selama libur sekolah, jumlah pengunjung diperkirakan meningkat dibandingkan hari biasa.
“Untuk penjualan, memang ada peningkatan, namun, penjualan lebih banyak didominasi oleh makanan, minuman, dan hiburan. Ada juga yang berbelanja produk non-makanan dan minuman, tetapi jumlahnya tidak terlalu signifikan,” ungkap Ketua Umum, APPBI Alphonzus Widjaja saat ditemui di Trans Studio Mall Cibubur, dikutip Minggu (12/7/2026).
Baca Juga: Harga Minyakita di Atas HET
Pola tersebut membuat restoran dan tempat hiburan lebih cepat merasakan manfaat dari bertambahnya pengunjung. Sementara itu, gerai yang menjual pakaian hingga peralatan rumah tangga belum menerima kenaikan transaksi dalam jumlah yang sama.
Tambahan pengunjung tetap membantu pelaku ritel melewati masa penjualan rendah atau low season yang berlangsung lebih panjang tahun ini. Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada triwulan pertama membuat triwulan kedua kehilangan salah satu masa belanja utama.
Pada tahun-tahun sebelumnya, belanja Ramadan masih ikut menopang penjualan pada awal triwulan kedua. Tahun ini, pelaku ritel harus melewati masa sepi lebih lama sebelum memasuki musim belanja akhir tahun.
Adapun libur sekolah membantu menjaga aktivitas pusat perbelanjaan selama periode tersebut. Namun, transaksi yang masih berpusat pada makanan dan hiburan membuat manfaatnya belum dirasakan seluruh gerai.
Bagi pelaku industri tersebut, peningkatan penjualan lebih bergantung pada kemampuan masyarakat untuk berbelanja. Karena itu, penguatan daya beli dinilai lebih penting daripada pemberian insentif langsung kepada perusahaan ritel.
Kondisi serupa terlihat pada pergerakan penjualan eceran nasional yang belum tumbuh secara bulanan. Bank Indonesia (BI) memprakirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 sebesar 221,6 atau turun 0,8% dibandingkan Mei.
“Penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan terjaga. Indeks Penjualan Riil Juni 2026 diprakirakan sebesar 221,6,” tulis BI dalam Survei Penjualan Eceran, Kamis (9/7).
Penurunan pada Juni lebih kecil dibandingkan kontraksi 1,5% pada Mei 2026. BI menyebut, perkembangan itu turut dipengaruhi oleh dimulainya masa libur sekolah pada akhir Juni.
Secara tahunan, penjualan Juni masih ditopang beberapa kelompok barang, terutama suku cadang, aksesori, dan perlengkapan rumah tangga. Artinya, kenaikan penjualan belum terjadi secara merata pada seluruh kelompok eceran.
Selain itu, survei Konsumen BI juga mencatat Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026. Indeks pembelian barang tahan lama turut melemah dari 108,3 menjadi 105,9 pada periode yang sama.















