PravadaNews – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan program bantuan pangan berupa penyaluran beras dan minyak goreng gratis menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat.
Kebijakan ini disebut turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada awal 2026.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program tersebut berfungsi sebagai stimulus ekonomi yang diandalkan pemerintah di tengah dinamika kebutuhan pangan nasional.
“Program bantuan pangan berupa penyaluran beras dan minyak goreng secara gratis menjadi salah satu program stimulus ekonomi yang diandalkan pemerintah,” kata Amran dalam keterangan di Jakarta, dikutip Kamis (7/5/2026).
Baca juga : RI Dorong Ekspor Beras ke Malaysia Incar Rp 2 T
Amran juga memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dengan cadangan beras pemerintah yang terus meningkat.
“Sekarang ini stok kita untuk (cadangan) beras 5,2 juta ton,” ujar Amran.
Adapun Bapanas mencatat selama triwulan pertama 2026, program bantuan pangan masih dijalankan melalui Perum Bulog. Pada Januari dan Februari, penyaluran merupakan perpanjangan dari program 2025, sementara Maret menjadi awal pelaksanaan menggunakan anggaran tahun berjalan.
Selama periode tersebut, bantuan telah menjangkau 1,85 juta keluarga penerima manfaat (KPM), dengan distribusi 37,1 juta kilogram beras dan 7,4 juta liter minyak goreng. Target total program mencapai 33,2 juta KPM di seluruh Indonesia.
Realisasi penyaluran tercatat 992,8 ribu KPM pada Januari–Februari dan 864 ribu KPM pada Maret.
Untuk memastikan kelancaran program, Bapanas memperpanjang batas waktu penyaluran hingga 31 Mei 2026 berdasarkan permintaan Perum Bulog pada akhir Maret.
Di sisi lain, pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, level tertinggi dibandingkan periode yang sama sejak 2021.
Kepala Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti menyebut capaian tersebut sebagai rekor dalam lima tahun terakhir.
“Kalau kita lihat di triwulan satu sejak 2021, belum pernah yang melebihi 5,61,” kata Amalia.
Data BPS menunjukkan fluktuasi pertumbuhan ekonomi pada periode 2021–2025, mulai dari kontraksi -0,69 persen pada 2021 hingga stabil di kisaran 5 persen















