PravadaNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Konflik yang melibatkan Timur Tengah dan meningkatnya risiko eskalasi perang antara Israel, Iran, serta keterlibatan Amerika Serikat membuat pasar keuangan global diliputi ketidakpastian.
Kondisi ini mendorong investor global memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan emas, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan di pasar valuta asing. Ketegangan geopolitik yang meningkat membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di pasar negara berkembang. Ketika konflik atau perang terjadi di kawasan strategis seperti Timur Tengah, pasar keuangan dunia biasanya bereaksi cepat karena wilayah tersebut merupakan pusat produksi energi global, terutama minyak bumi.
Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan, Senin (16/3/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp16.965 per dolar AS.
Baca juga: Harga Daging di Pasar Kosambi Bandung Stabil
Rupiah tercatat melemah 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang, Lukman Leong menyebut nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan Timur Tengah yang terus memanas serta harga minyak dunia yang tetap tinggi. Sementara sisi sentimen domestik terkait ketahanan fiskal menghadapi gejolak global.
Sentimen geopolitik tersebut memicu peningkatan permintaan terhadap aset-aset safe haven dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia karena meningkatnya biaya impor energi.
“Iya, sentimen domestik memang sudah lama negatif, tentunya perpu ini makin mengkhawtirkan investor,” ujar Lukman.
Faktor utama yang menekan rupiah adalah meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Dalam situasi krisis global, dolar Amerika Serikat sering menjadi pilihan utama investor untuk menyimpan dana karena dianggap lebih stabil dibandingkan mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat sementara permintaan terhadap mata uang negara berkembang menurun.
Selain faktor pergeseran investasi global, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi pemicu tambahan bagi pelemahan rupiah. Timur Tengah merupakan wilayah penghasil minyak terbesar di dunia, dan konflik yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi global. Ketika risiko gangguan pasokan meningkat, harga minyak di pasar internasional biasanya ikut naik.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia memiliki dampak yang cukup signifikan. Meskipun memiliki sumber energi sendiri, Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya dari luar negeri. Ketika harga minyak meningkat, kebutuhan devisa dalam bentuk dolar untuk membayar impor energi juga bertambah. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, ketidakpastian global juga mendorong terjadinya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Investor internasional cenderung menarik dananya dari pasar saham maupun obligasi di negara berkembang ketika risiko global meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai capital outflow. Ketika dana asing keluar dari Indonesia, permintaan terhadap rupiah berkurang sementara kebutuhan dolar meningkat, sehingga nilai tukar rupiah menjadi lebih lemah.
Menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan melakukan berbagai langkah stabilisasi. Bank sentral Indonesia biasanya melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran dolar. Selain itu, Bank Indonesia juga dapat menggunakan instrumen pasar keuangan lainnya untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga.
Pemerintah Indonesia juga menegaskan fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang cukup besar diharapkan dapat membantu menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Selain itu, pelemahan rupiah juga diakibatkan faktor eksternal seperti konflik geopolitik umumnya bersifat sementara, terutama jika situasi keamanan global kembali stabil. Namun demikian, eskalasi konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar dan pemerintah.
Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, kebijakan moneter negara-negara besar, serta kondisi perdagangan internasional. Selama ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung, volatilitas di pasar keuangan dunia kemungkinan akan tetap tinggi.
Meski demikian, berbagai pihak berharap konflik di kawasan tersebut dapat segera mereda sehingga stabilitas ekonomi global kembali pulih. Stabilitas geopolitik dinilai sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor serta memastikan kelancaran perdagangan dan distribusi energi dunia.
Ketika kondisi global kembali kondusif, tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya diharapkan dapat berkurang.















