PravadaNews – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan bergerak menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren positif yang telah terlihat pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka naik 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp17.890 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.899 per dolar AS.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, mata uang Garuda juga mencatatkan penguatan sebesar 0,09 persen, memberikan sinyal positif di tengah dinamika pasar keuangan.
Meski demikian, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar, mengingat nilai tukar memiliki peran penting terhadap aktivitas perdagangan internasional, biaya impor, hingga stabilitas ekonomi domestik.
Penguatan pada awal perdagangan ini menjadi salah satu indikator yang dicermati investor untuk melihat arah pergerakan rupiah selanjutnya, sekaligus mengukur respons pasar terhadap berbagai sentimen yang memengaruhi hubungan nilai tukar rupiah dan dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS berada di level 102,13 pagi ini, melemah sekira 0,12 persen dibandingkan level sebelumnya.
Pelemahan dolar AS membuka peluang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan.
Namun dolar AS juga masih berpeluang menguat meski terbatas disebabkan sikap pelaku pasar yang sedang ‘wait and see’.
Mengutip analisis Tim Phintraco Sekuritas, perhatian investor terfokus pada data inflasi konsumen dan produsen yang dirilis pekan ini.
Data inflasi sendiri menjadi perhatian pasar. Hal ini karena akan mempengaruhi kebijakan suku bunga the Fed.
Posisi indeks dolar AS di level 102 merupakan level tertinggi mata uang AS.
Penguatan dolar ditopang oleh tingginya imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil Obligasi AS bergerak di kisaran level 5,23-3 persen.
Nilai tukar rupiah hari ini diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp17.850 – Rp17.950 per dolar AS.
Konflik geopolitik yang berimbas ke berbagai sektor termasuk sektor keuangan global, masih menjadi pemicu fluktuasi mata uang global.















