PravadaNews – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menempatkan sekolah kehutanan sebagai laboratorium pembinaan pelestari hutan muda untuk memperkuat sumber daya manusia nasional.
Arah kebijakan itu diuji melalui Forest Move Club yang menggabungkan pembelajaran kelas, praktik lapangan, dan karakter kepemimpinan hijau.
Program tersebut berjalan melalui pilot project di Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK Kehutanan Negeri Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat. Namun, pelaksanaannya diarahkan sebagai contoh pembinaan yang dapat diperluas ke sekolah, komunitas, dan wilayah lain.
Kepala SMK Kehutanan Negeri Kadipaten Zuljalal Aziz mengatakan Forest Move Club memberi ruang belajar yang berbeda bagi peserta didik kehutanan.
“Program ini memberikan ruang bagi siswa untuk belajar di luar kelas melalui praktik langsung, kerja tim, kepemimpinan, serta pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkap Zuljalal, Senin (22/6/2026).
Selama satu tahun, sebanyak 104 siswa mengikuti evaluasi bersama guru pendamping, widyaiswara, Perum Perhutani, dan tim pelaksana program. Evaluasi tersebut mengukur pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta setelah menjalani pembelajaran berbasis praktik kehutanan.
Kegiatan lapangan menjadi dasar penting dalam membentuk pemahaman siswa terhadap pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Peserta mengikuti konservasi mata air, pembuatan sekat bakar hijau, penyulingan minyak kayu putih, dan pembuatan silase.
Sementara itu, hasil evaluasi tersebut menjadi bahan penyempurnaan model pembinaan generasi pelestari hutan.
Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau P2SDM Wilayah IV Anis Susanti Aliati menilai kekuatan program berada pada kolaborasi lintas pihak.
“Kolaborasi antara Pusgenri, sekolah, dunia usaha, dan para mitra menjadi kekuatan utama program ini,” jelas Anis.
Seperti diketahui, kebutuhan sumber daya manusia kehutanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga kepedulian lingkungan sejak pendidikan.
Karena itu, Forest Move Club disiapkan sebagai model pembinaan nasional agar pelajar mampu menjadi penggerak pelestarian hutan di daerah masing-masing.














