PravadaNews – Penasihat senior IRGC, Brigadir Jenderal Ali Fadavimenyatakan bahwa untuk pertama kalinya, tidak ada kapal AS yang berada di Teluk Persia, Selat Hormuz, Laut Oman, ataupun wilayah utara Samudra Hindia.
Fadavi mengatakan bahwa Selat Hormuz berada sepenuhnya di bawah kendali Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Fadavi mencatat, pihak Amerika telah mempertahankan kehadiran mereka di Teluk Persia sejak tahun 1853, namun kini, untuk pertama kalinya, tidak ada kapal AS yang berada di Teluk Persia, Selat Hormuz, Laut Oman, ataupun wilayah utara Samudra Hindia.
“Pihak Amerika telah pergi dan menjauh hingga lebih dari seribu kilometer dari perbatasan kami,” ujar Fadavi melansir dari Kantor Berita IRNA, dikutip Senin (5/10/2026).
“Hal ini tidak terjadi atas pilihan mereka sendiri, melainkan merupakan hasil dari kekuatan Republik Islam Iran dan Angkatan Laut IRGC.”
Fadavi menyebutkan bahwa pihak Amerika mengklaim mampu mengangkut maksimal tiga hingga empat juta barel minyak per hari melalui jalur selatan Selat Hormuz—di luar wilayah yang secara resmi ditetapkan oleh Iran—sebuah angka yang ia nilai tidak signifikan dibandingkan dengan volume minyak yang biasanya melintasi selat tersebut.
Fadavi mengatakan bahwa sebelumnya, lebih dari 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap harinya melalui jalur resmi, ditambah dengan volume ekspor yang dilakukan secara informal.
Pejabat IRGC tersebut menyatakan bahwa 46 persen ekspor minyak global melintasi Selat Hormuz, seraya menambahkan bahwa angka 20 persen yang sering dikutip sebenarnya merujuk pada konsumsi minyak global, mengingat banyak negara mengonsumsi hasil produksi mereka sendiri alih-alih mengekspornya.
Fadavi mengatakan bahwa ekspor minyak melalui jalur tersebut kini menghadapi gangguan besar, yang berdampak luas terhadap ekonomi global, termasuk bagi Amerika Serikat dan Eropa.
Fadavi memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut akan merugikan Amerika Serikat, seraya menegaskan bahwa kapal-kapal perang Amerika berada dalam ancaman langsung dari kekuatan angkatan laut IRGC di Selat Hormuz.
Penasihat tersebut mengatakan bahwa Amerika Serikat akan terpaksa mengandalkan kapal-kapalnya untuk meningkatkan ketegangan. “Meskipun mereka membombardir suatu wilayah setiap hari, mereka tidak dapat memaksakan tuntutan mereka selama mereka tidak memiliki kehadiran fisik di sana.”
Fadavi menambahkan bahwa kapal-kapal AS “terbuka dan rentan” terhadap serangan Angkatan Laut IRGC. Menurutnya, pasukan AS telah berulang kali berupaya membawa kapal perang mereka memasuki Selat Hormuz, namun diserang oleh Angkatan Laut dan Angkatan Kedirgantaraan IRGC.
“Setiap eskalasi ketegangan pasti akan merugikan mereka sendiri,” ujar Fadavi.















