PravadaNews – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan. Setelah sempat menguat dalam pembukaan perdagangan, mata uang Garuda berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (24/8/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke level Rp17.721 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang kembali menjadi perhatian pasar.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, rencana Washington untuk kembali mengambil langkah terhadap Teheran menjadi salah satu sentimen negatif bagi rupiah.
Menurutnya, ketidakpastian hubungan AS dan Iran berpotensi mendorong investor mengambil posisi lebih hati-hati dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
“AS menyatakan akan mengenakan rangkaian sanksi paling keras yang pernah ada terhadap Iran,” ujar Ibrahim.
Ibrahim juga mengutip pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, D-Day ekonomi akan segera tiba di Iran.
Hal itu diungkapkannya di tengah kebuntuan yang terjadi di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya.
“Dia kemungkinan akan memberikan keterangan pers pada Senin 24 Agustus 2026 petang waktu AS,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, Iran mengecam rencana AS tersebut melalui Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaee. Menurut dia, Presiden Masoud Pezeshkian sebenarnya sudah menyerukan solusi diplomatik.
“Tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor jika perang ekonomi berlanjut. Baik melalui Selat Hormuz atau di lokasi apapun di Teluk Persia,” ucap Ibrahim.
Selain pertikaian AS-Iran, indikator ekonomi AS juga mempengaruhi sentimen di pasar keuangan.
S&P Global merilis purchasing managers index (PMI) sektor jasa AS yang mencapai 56,8, di atas perkiraan pada angka 54.
Namun, PMI manufaktur AS melambat dari 53,9 menjadi 53,2, level terendah dalam lima bulan terakhir.
Selain itu, masih ada kekhawatiran naiknya inflasi akibat harga energi yang dapat memicu kenaikan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan, pasar merespons negatif deficit transaksi berjalan Indonesia yang mengalami pelebaran.
Pada triwulan II 2026, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai USD12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ini berarti meningkat tajam dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang tercatat USD3,6 miliar atau 1 persen terhadap PDB,” kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer.
Salah satunya adalah kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia.
“Walaupun, transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan tetap terjaga,” ucap Ibrahim.
Pada triwulan II 2026, NPI mengalami defisit USD900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan USD9,1 miliar pada triwulan I 2026.
Ini ditopang transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus USD12 miliar di triwulan II 2026.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga tetap terjaga hingga akhir Juni 2026, yang tercatat sebesar USD145,6 miliar. Melihat perkembangan itu, para analis memperingatkan kesenjangan transaksi berjalan indonesia mungkin akan terus berlanjut.
Hal ini seiring masih tingginya harga minyak, volume impor minyak yang masih kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan ekonomi global.
“Pada saat bersamaan, ketegangan geopolitik antara AS, Israel dan Iran, serta Rusia dan Ukraina terus,” kata Ibrahim.
Sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,03 persen atau 5 poin ke level Rp17.689 per dolar AS, melanjutkan tren positif setelah pada penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya mata uang Garuda menguat 0,30 persen ke posisi Rp17.694 per dolar AS.
“Rupiah hari ini diperkirakan akan berkonsolidasi,” kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Senin (24/8).
Menurut Lukman, rupiah potensi menguat tapi penguatannya terbatas hari ini. “Penguatan rupiah disebabkan karena perlemahan dolar AS,” ucap Lukman.















