PravadaNews – Investasi hilirisasi sebesar Rp300,1 triliun pada semester I-2026 belum membuat industri Indonesia lepas dari bahan baku, bahan penolong, maupun barang modal impor.
Sepanjang Januari-Juni 2026, impor bahan baku dan penolong mencapai US$97,95 miliar, sedangkan barang modal tercatat US$27,36 miliar.
Kebutuhan tersebut masih muncul ketika sejumlah bagian dalam rantai produksi belum dapat dipenuhi industri di dalam negeri hingga menjadi produk akhir.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus mengungkapkan, struktur industri domestik belum terbentuk secara utuh. Akibatnya, investasi yang masuk masih dapat diikuti kebutuhan impor untuk menjalankan produksi.
Menurutnya, hilirisasi perlu dilihat dari kemampuan Indonesia menguasai seluruh tahapan dalam satu rantai industri.
“Tahapan hilirisasi kita masih panjang, kita belum sampai menguasai dalam satu pohon industri, di situ kita belum 100% menguasainya,” kata Heri saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).
Bagian produksi yang belum tersedia di dalam negeri kemudian tetap dipenuhi melalui impor.
“Masih ada yang kita impor, barang modalnya masih ada yang kita impor, bahan penolongnya masih ada yang kita belum bisa produksi sampai ke final produknya atau barang akhirnya,” lanjut Ekonom ini.
Di sisi lain, keberadaan bahan baku domestik belum otomatis menggantikan produk impor. Industri tetap membutuhkan kualitas, harga, dan pasokan yang stabil agar bahan lokal dapat digunakan secara berkelanjutan.
Karena itu, Heri menilai pengolahan pascapanen perlu diperkuat agar hasil produksi lokal memenuhi kebutuhan industri. Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) juga perlu berjalan bersama pembangunan industri bahan baku.
Adapun Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat sektor mineral menyerap Rp206,5 triliun dari total investasi hilirisasi semester I-2026. Sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar dalam realisasi hilirisasi selama periode itu.
Besarnya investasi mineral belum berarti seluruh rantainya telah berakhir pada barang jadi. Pada nikel, misalnya, proses masih berlanjut dari hasil pengolahan menuju material baterai, sel baterai, hingga kendaraan listrik.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tetap mendorong hilirisasi sekaligus menjaga rantai nilai dan akses pasar.
“Jadi ini merupakan akses market yang tetap dijaga, dan juga hilirisasi dan siklus daripada value chain yang tetap kita jaga,” ujar Airlangga, Kamis (6/8).
Airlangga menempatkan penguatan rantai nilai sebagai bagian dari arah hilirisasi pemerintah. Kebijakan ini berjalan bersamaan dengan upaya menjaga akses pasar bagi hasil produksi Indonesia.















