Ilustrasi obesitas. (Foto: Dok. kemkes.go.id)

Beranda / Kesehatan / Tak Disadari! Obesitas Bisa Jadi Pemicu Diabetes

Tak Disadari! Obesitas Bisa Jadi Pemicu Diabetes

PravadaNews – Di tengah meningkatnya penyakit berat badan berlebih, obesitas dapat memicu diabetes tipe 2 saat timbunan lemak membuat tubuh kurang peka terhadap insulin. Kondisi ini membuat gula darah sulit masuk ke sel untuk diolah menjadi energi.

Persoalan itu menjadi penting karena diabetes sering muncul tanpa keluhan jelas pada tahap awal. Banyak orang baru mengetahui gula darahnya bermasalah setelah menjalani pemeriksaan, bukan saat gejala mulai terasa.

Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai, obesitas tidak lagi bisa dilihat sebagai persoalan penampilan. Obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis karena berkaitan dengan gangguan metabolisme tubuh.

Berdasarkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), obesitas konsisten masuk lima besar masalah kesehatan yang banyak ditemukan di Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan berat badan berlebih sudah menjadi persoalan pencegahan penyakit tidak menular.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pengendalian obesitas dapat menekan risiko komplikasi sejak awal.

“Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung,” ujar Dante di Jakarta, Sabtu (4/7/2026) lalu.

Dante juga mengingatkan, risiko diabetes tidak hanya dipengaruhi pola makan. Faktor keluarga turut berperan, terutama bila kedua orang tua sama-sama menyandang diabetes.

Kemenkes menyebut, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10% bila hanya satu orang tua memiliki riwayat penyakit itu. Namun, risikonya dapat naik menjadi 20-30% ketika ayah dan ibu sama-sama menyandang diabetes.

Kewaspadaan perlu diperkuat karena diabetes sering tidak menimbulkan keluhan jelas pada tahap awal. Di Jakarta, prevalensi diabetes dilaporkan mencapai 12,8%, tapi banyak kasus baru diketahui setelah warga mengikuti survei kesehatan.

Masalah yang sama juga terlihat pada data nasional. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) mencatat obesitas orang dewasa meningkat dari 10,5% pada 2007 menjadi 21,8% pada 2018.

Lebiha lnjut, beban diabetes Indonesia juga diketahui sudah besar. International Diabetes Federation (IDF) mencatat 20,4 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024, dengan prevalensi 11,3%.

Karena itu, penanganan obesitas tidak cukup hanya mengandalkan diet mandiri. Layanan kesehatan perlu memperkuat deteksi dini, konseling gizi, aktivitas fisik terukur, pengobatan sesuai indikasi, serta pemantauan berkala.

Di sisi lain, Alodokter menjelaskan, obesitas sebagai penumpukan lemak tubuh akibat kalori masuk lebih besar dibandingkan energi yang digunakan.

“Pada orang dengan obesitas, tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga gula darah lebih sulit dikendalikan dan akhirnya berkembang menjadi diabetes tipe 2,” tulis penjelasan medis tersebut dari laman resminya, dikutip Kamis (9/7).

Perlu diketahui, Ciri obesitas dapat dikenali dari indeks massa tubuh yang tinggi dan lingkar perut yang membesar. Keluhan lain dapat berupa cepat lelah, napas mudah terengah, atau berat badan terus naik.

Pencegahan juga dimulai dari pola makan seimbang, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, tidur cukup, dan pemeriksaan gula darah berkala. Selain diabetes, obesitas juga dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, perlemakan hati, sleep apnea, hingga masalah sendi.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *