PravadaNews – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyoroti risiko penurunan harga alumina apabila kapasitas produksi industri pengolahan terus meningkat tanpa diimbangi permintaan pasar. Pasalnya, kondisi tersebut perlu diperhatikan, apalagi di tengah ekspansi industri hilirisasi bauksit di dalam negeri.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah kini tengah mempertimbangkan kesesuaian antara kapasitas industri pengolahan dan ketersediaan pasokan bahan baku. Menurut Yuliot, peningkatan produksi yang tidak sejalan dengan kebutuhan pasar dapat menekan harga komoditas.
“Jadi yang dilakukan sekarang, ini di Kementerian ESDM kan kita melihat itu antara industri dengan itu pasokan yang ada,” uhar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Lebih lanjut, Yuliot menjelaskan, kewajiban pengolahan mineral di dalam negeri perlu diiringi dengan perhitungan terhadap kapasitas produksi dan kebutuhan pasar. Sebab, produksi yang melampaui permintaan, justru dapat menimbulkan kelebihan pasokan.
“Jadi jangan sampai ini kan kita mewajibkan untuk diolah di dalam negeri secara keseluruhan. Pada saat ternyata suplai lebih tinggi, nanti kan itu harga itu kan juga akan terjadi penurunan signifikan,” jelas Yuliot.
Yuliot pun menambahkan, pemerintah saat ini tidak hanya memperhitungkan kebutuhan alumina di pasar domestik, tetapi juga permintaan global. Hal tersebut dinilai penting untuk memastikan produk yang dihasilkan industri pengolahan dalam negeri dapat terserap pasar.
“Dan juga ini pasarnya kan bukan hanya pasar domestik untuk produk yang dihasilkan, dan juga kita memperhatikan permintaan global,” kata Yuliot.
Oleh karena itu, kata Yuliot, keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan industri hilirisasi mineral.
Meskipun begitu, Yuliot tidak secara tegas menyatakan apakah pemerintah akan memberlakukan moratorium atau penghentian sementara pembangunan smelter alumina. Dia juga belum memaparkan langkah konkret yang akan diambil pemerintah untuk mengendalikan ekspansi kapasitas produksi industri tersebut.
Dengan demikian, arah kebijakan pemerintah terhadap pembangunan smelter alumina masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, terutama terkait kemungkinan pembatasan proyek baru, kebutuhan bahan baku bauksit, dan proyeksi permintaan alumina di pasar global.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan perusahaan aluminium asal Rusia, United Company Rusal, berencana membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan. Pada 11 September 2026, Bahlil menyebut proses perizinan proyek tersebut hampir memasuki tahap final.
Akan tetapi, pemerintah belum mengumumkan nilai investasi maupun mitra usaha lokal yang akan bekerja sama dengan Rusal. Bahlil mengatakan, rincian investasi masih menunggu penyelesaian studi kelayakan atau feasibility study (FS).












