PravadaNews – Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene menekankan perlunya perubahan pendekatan dalam program vaksinasi campak di Indonesia agar lebih terencana, terukur, dan berbasis data yang akurat.
Felly menilai, strategi yang selama ini dijalankan masih cenderung reaktif, yakni baru digencarkan ketika kasus mulai meningkat, padahal pola penyebaran penyakit di negara beriklim tropis seperti Indonesia sejatinya dapat dipetakan dan diantisipasi sejak dini.
Dalam keterangannya, Felly menyoroti pentingnya mempertimbangkan faktor cuaca serta karakteristik geografis tiap daerah dalam menyusun jadwal dan distribusi vaksin.
Menurut Felly, kondisi lingkungan seperti musim hujan, kepadatan penduduk, hingga akses layanan kesehatan sangat memengaruhi potensi penyebaran penyakit campak di berbagai wilayah.
Oleh karena itu, pendekatan yang lebih presisi dan berbasis data dinilai krusial agar program imunisasi tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga mampu mencegah lonjakan kasus secara lebih efektif.
Legislator dari Fraksi Partai NasDem ini pun mendorong agar pemerintah menyusun strategi vaksinasi yang mempertimbangkan siklus musim serta potensi kemunculan wabah di daerah tertentu.
“Dengan demikian, intervensi dapat dilakukan lebih dini sebelum kasus meningkat,” ujar Felly dikutip dari dpr.go.id, Selasa (21/4/2026).
Baca juga: 3 Manfaat Kunyit bagi Kesehatan Tubuh
Lebih lanjut, Felly mengingatkan agar fokus penanganan penyakit tidak hanya tertuju pada satu isu tertentu, seperti tuberkulosis, tetapi juga tetap memperhatikan penyakit lain yang berpotensi menimbulkan wabah, termasuk campak dan polio. Menurut Felly, keseimbangan program imunisasi sangat penting untuk menjaga ketahanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Felly menilai, pemerintah perlu memiliki pendekatan berbasis perhitungan yang matang dalam menentukan prioritas vaksinasi. Hal ini mencakup pemetaan wilayah rawan, waktu penyebaran penyakit, hingga kesiapan distribusi vaksin agar dapat menjangkau masyarakat secara optimal.
“Tapi bukan berarti mengabaikan juga yang lain-lain, seperti vaksin campak dan mungkin polio dan lain sebagainya. Jadi ini juga jangan diabaikan, tetap kita harus menghitung,” tegas Felly.
Di sisi lain, Felly juga mendorong adanya model prediksi yang lebih ilmiah dalam membaca potensi penyebaran wabah di Indonesia. Dengan kondisi geografis sebagai negara tropis, menurutnya sudah seharusnya pemerintah memiliki rumusan yang mampu memperkirakan kapan dan di mana suatu penyakit berpotensi meningkat.
“Kita harus menghitung, ada rumus yang mungkin bisa dipakai untuk masyarakat Indonesia. Ini daerah tropis. Jadi kira-kira kalau wabah ini masuk atau meledak karena dipengaruhi cuaca, di mana itu harus bisa dipetakan,” pungkas Felly.















