PravadaNews – Kontribusi perempuan dalam perekonomian Indonesia belum maksimal. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri menyoroti masih rendahnya tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja yang menjadi tantangan sekaligus peluang.
Dalam Kartini Leadership Dialogue 2026 yang digelar di Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Wamendag menegaskan, peran perempuan sangat strategis, terutama karena jumlahnya hampir separuh dari populasi Indonesia.
“Saat ini, masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi karena tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja masih pada kisaran 56 persen. Untuk itu, kami mengajak perempuan Indonesia untuk terus belajar dan percaya dengan kemampuan diri sehingga dapat berkontribusi bagi negara,” ujar Dyah dikutip Kamis (23/4/2026).
Dyah menekankan, kesetaraan gender bukan hanya tanggung jawab perempuan, melainkan membutuhkan dukungan dari laki-laki sebagai bagian dari sistem pendukung dalam keluarga maupun lingkungan.
Baca Juga: Utak-atik Masalah Kenaikan Minyakita
Di tengah tantangan tersebut, perempuan justru mendominasi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebanyak 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, terutama di sektor kuliner, fesyen, kecantikan, dan kerajinan.
Untuk memperkuat peran ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong program Campuspreneur dalam kerangka “Dari Lokal Untuk Global” guna mencetak eksportir baru melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi.
“Kita semua perlu menyadari bahwa upaya pemberdayaan perempuan bukanlah hal yang mudah, butuh pendidikan dan kewirausahaan (enterpreneurship). Dalam semangat Kartini, mari kita terus mendorong perempuan Indonesia untuk berani berinovasi dan siap beradaptasi dalam menghadapi perubahan. Perempuan juga harus menjadi cheerleader atau penyemangat sesama perempuan. Tidak ada hal yang instan, tapi mungkin ada kesulitan. Jadi, kita perlu menikmati setiap prosesnya,” ucap Wamendag.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Sosial Kadin Indonesia, Nita Yudi menyoroti pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai fondasi kemajuan.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Perempuan harus maju dan memajukan perempuan lain. Harapan saya, diskusi ini dapat memunculkan wirausaha lain yang terinspirasi oleh diskusi hari ini,” ujar Nita Yudi.
Diskusi ini juga menghadirkan berbagai pelaku yang berbagi pengalaman. CEO Socially Significant Company Hanifa Ambadar mengisahkan awal terbentuknya Female Daily Network yang berkembang dari komunikasi sederhana menjadi platform interaktif.
Direktur Eksekutif Pijar Foundation Cazadira Fadiva Tamzil menjelaskan pendekatan pendampingan yang memberikan akses dan ruang bagi perempuan dalam sistem, termasuk dalam relasi dengan pemerintah daerah.
Senior Lead Angin Advisory Anisa Azizah turut memaparkan peran pendampingan dalam membantu perempuan memasuki rantai pasok dan memperoleh akses pembiayaan.
Sementara itu, Direktur Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Dwi Larso menekankan pentingnya kewirausahaan sebagai strategi menghadapi tantangan ketenagakerjaan sekaligus menjaga keberlanjutan pendidikan melalui dana abadi.















