PravadaNews – Sarana dan Prasarana sangat penting untuk menunjang tim sepak bola, salah satunya stadion. Stadion merupakan tempat di mana klub yang berlatih, bertanding, dan ‘rumah’. Fasilitas yang lengkap sangat dibutuhkan untuk membuat mereka merasa nyaman bermain di kandang sendiri.
Dengan fasilitas yang lengkap dan standar stadion yang sesuai dengan FIFA akan membuat tim lebih enjoy, dan merasa memiliki kandang mereka.
“Jadi ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi sebuah tim,” kata Pengamat Sepak Bola, Kesit Budi Handoyo, Jumat (24/4/2026).
Oleh karena itu, menurut Kesit, lebih baik stadion tidak terlalu besar, tapi sesuai standar internasional yang ditetap FIFA dibandingkan stadion besar tetapi fasilitasnya minim.
“Stadion itu kan tidak perlu besar, buat apa besar-besar tapi ternyata sarana pendukungnya tidak memadai,” kata Kesit.
Kesit juga menyoroti proyek pembangunan Stadion Barombong. Menurutnya, stadion yang berada di pesisit pantai itu sangat megah. Akan tetapi, kemegahan patut dipertanyakan, apakah sudah sesuai dengan standar internasional atau belum.
“Apalagi stadion itu dalam kondisi mangkrak,” kata Kesit.
Kesit berujar, jika sudah mangkrak berarti harus dilihat apa saja yang membuat stadion itu tidak selesai pembangunannya. Contoh kecilnya, tempat duduk belum number seat dan rumput belum sesuai standar.
Kemudian penerangan lampunya belum memenuhi standar internasional.
“Belum memenuhi standar layaknya stadion yang bisa dipakai untuk pertandingan-pertandingan internasional,” kata Kesit.
Pemprov Sulsel melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel mengakui terhentinya pembangunan Stadion Baromobong terkait dengan lahan hibah yang diberikan PT GMTD.
“Masih ada sedikit persoalan lahannya,” ujar Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Pemprov Sulsel, Suherman, Rabu (22/4).
Permasalahan terkait lahan yang menjadi lokasi sebagaian pembangunan Stadion Barombong bukan menjadi tanggung jawab Dispora Sulsel.
“Jadi kewenangannya biro hukum atau biro aset,” jelas Suherman.
Permasalahan lahan hibah pada proyek pembangunan Stadion Barombong bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Mangkraknya Stadion Barombong menunjukkan lemahnya tata kelola pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan. Selain itu, skema pembiayaan yang tidak jelas dan perubahan kepemimpinan politik di tingkat daerah membuat proyek itu tersendat.
Padahal, sejak 2011 lalu, anggaran proyek pembangunan Stadion Barombong sudah menyerap hingga ratusan miliar. Dampaknya, masyarakat atau publik kehilangan manfaat dari stadion tersebut.
“Padahal anomi masyarakat sangat tinggi terkait olahraga, khususnya sepak bola,” kata Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Gunardi Ridwan, Rabu (22/4).















