PravadaNews – Di tengah tekanan global dan perlambatan ekspor, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menggenjot modernisasi armada tangkap sebagai langkah strategis menjaga daya saing sektor perikanan nasional.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Lotharia Latif mengungkapkan, hingga akhir 2026 pihaknya menargetkan modernisasi 50 kapal dari total 1.582 unit yang direncanakan, sebagai bagian dari kerja sama Indonesia–Inggris.
“Kita melakukan survei galangan kapal dan sebagainya. Kita rencana timeline-nya Juni ini mulai penyiapan supply chain, material, equipment, dan berproses dan untuk target tahun 2026 ini sementara 50 kapal dulu yang akan kita selesaikan,” ujar Latif di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Latif menegaskan, proses modernisasi kapal bukan pekerjaan instan. Persiapan infrastruktur hingga rantai pasok menjadi faktor krusial yang membuat target tahun ini masih terbatas.
“Bikin kapal bukan kayak bikin combro. Ya kita harus nyiapin mulai dari steel-nya, peralatannya. Kita punya waktu 8 bulan Makanya tadi kan saya kan menyampaikan bahwa dari Januari sebenarnya kita sudah mulai bergerak itu survei galangan, karena kan galangan ini harus disiapkan. Kemudian kita beli peralatan pendukung,” tambah Latif.
Adapun kapal yang akan dimodernisasi tahun ini berukuran 30 Gross Tonnage (GT), yang diperkirakan membutuhkan sekitar 500 awak kapal perikanan.
“Jadi kalau lihat kebutuhannya 50 kapal 30 GT itu berarti kita butuh 500 awak kapal perikanan,” jelas Latif.
Namun di sisi lain, kinerja sektor perikanan justru menghadapi tekanan di awal tahun. Setelah mencetak rekor ekspor tertinggi dalam lima tahun pada 2025, tren tersebut belum berlanjut pada 2026.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyebut capaian tahun lalu ditopang produksi yang meningkat signifikan.
“Produksi mencapai 26,25 juta ton menjadi capaian tertinggi yang terdiri atas 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia meningkat juga mencapai US$ 6,27 miliar di tahun 2025, juga menjadi capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir,” ujar Trenggono.
Memasuki 2026, laju ekspor justru melambat. Hingga Februari, nilainya baru mencapai US$ 960 juta.
Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi global, sementara fenomena El Nino mengancam ekosistem laut dan produksi perikanan.
“Hingga Februari 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$ 960 juta yang secara year-on-year masih menunjukkan perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” papar Trenggono.















