Ilustrasi Pemerintah diminta belajar dari era Presiden RI B.J Habibie untuk atasi lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: PravadaNews) 

Beranda / Ekonomi / Ekonom Desak Pemerintah Belajar di Era Habibie Atasi Rupiah Lemah

Ekonom Desak Pemerintah Belajar di Era Habibie Atasi Rupiah Lemah

PravadaNews – Lemahnya Nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dolar AS di era Presiden Prabowo Subianto memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai stabilitas ekonomi nasional.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini, menilai pelemahan rupiah tidak semata-mata dipengaruhi faktor teknis pasar dan ekonomi.

Lebih jauh, sosok yang akrab disapa Didik itu menyebut salah satu faktor lemahnya nilai tukar rupiah tersebut menyangkut aspek fundamental berupa kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Didik mengulas kembali sejarah melemahnya rupiah yang pernah dialami Indonesia di era Presiden ke 3 RI B.J Habibie. Pada saat itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melambung sangat tinggi yang disebabkan krisis 1998.

Didik berpendapat pengalaman masa transisi dari Presiden ke-2 RI Soeharto ke Presiden RI ke-3 B.J. Habibie dapat menjadi pelajaran penting dalam memahami peran sentimen kepercayaan terhadap stabilitas nilai tukar.

“Saya berpendapat, B.J. Habibie berhasil menurunkan nilai tukar rupiah karena faktor kepercayaan (trust) yang mulai terlihat setelah hampir setahun menjadi presiden pada periode yang singkat,” kata Didik kepada PravadaNews, Rabu (20/5/2026).

Didik menyebut, pada awal masa jabatannya, Habibie juga sempat diragukan karena dianggap bagian dari rezim sebelumnya.

Namun, salah satu keberhasilan mengembalikan nilai tukar rupiah saat itu yakni faktor kepercayaan publik dan pelaku pasar kepada BJ Habibie.

Didik mengatakan kepercayaan publik dan pelaku usaha perlahan mulai pulih seiring dengan proses langkah-langkah reformasi yang dijalankan.

“Peran transisi B.J. Habibie yang pada awalnya diragukan karena dianggap sebagai bagian dari Orde Baru – perlahan mulai dipercaya karena komitmennya terhadap reformasi institusi ekonomi,” ujar Didik.

Didik menekankan, poin kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang telah digulirkan pada saat itu, sebagai bagian upaya membangun kembali institusi ekonomi, turut memperkuat persepsi pemerintah memiliki arah perubahan yang jelas.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh indikator makro, tetapi juga konsistensi politik dan kredibilitas kebijakan.

Didik menambahkan, di tengah situasi tekanan rupiah saat ini yang semakin tidak memunculkan kepastian pemerintah sangat perlu menjaga komunikasi kebijakan dan memperkuat kredibilitas agar sentimen pasar tidak semakin tertekan.

“Habibie bersungguh-sungguh menjalankan demokrasi dan reformasi tanpa vested interest, sehingga kepercayaan itu tumbuh dan berdampak pada pemulihan ekonomi,” tutup Didik.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengklaim nilai tukar rupiah ke dolar AS akan segera menguat dalam waktu dua bulan kedepan.

Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa Perry itu meyakinkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada Mei 2026 bersifat sementara.

Perry mengaku optimistis rupiah akan kembali menguat mulai Juli hingga beberapa bulan setelah badai lemahnya nilai tukar pada bulan Mei 2026.

Perry meyakini lemahnya nilai tukar rupiah ke dolar AS saat ini merupakan seiring pola musiman yang berulang setiap tahun.

Pernyataan itu disampaikan Perry dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, pada Senin, (18/5)

Diketahui pada hari ini, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.671 per dolar AS pada bursa perdagangan.

Di hadapan legislator, Perry turut memaparkan bahwa asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 berada di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan rata-rata sekitar Rp16.500.

Sementara itu, rata-rata year to date rupiah disebut sudah berada di atas Rp16.900, atau melampaui asumsi tersebut.

“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni karena permintaan dolar tinggi,” ujar Perry dalam rapat.

Perry menambahkan, tekanan pada periode tersebut bukan hal baru. Menurutnya, pola serupa kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir sebelum rupiah kembali menguat pada semester kedua, khususnya Juli hingga September.

“Kalau Juli, Agustus akan menguat. Itu pola yang berulang,” kata Perry, seraya menyebut volatilitas saat ini masih dalam batas yang dapat dikelola.

Di sisi lain, Perry menyinggung perihal pengalaman panjangnya dalam menghadapi berbagai krisis keuangan, mulai dari krisis 1998, krisis global 2008, taper tantrum, hingga pandemi Covid-19.

Pengalaman itu, menurut Perry, menjadi dasar keyakinan bahwa tekanan rupiah saat ini tidak akan berlangsung lama.

Perry menyebut bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kondisi “undervalued” apabila dibandingkan dengan fundamental dan asumsi makroekonomi.

“Memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli, Agustus, dan semuanya itu akan menguat, sehingga kami meyakini sekarang under value,” ungkap Perry.

Dalam skenario penguatan, Perry menargetkan nilai tukar kembali mendekati rata-rata APBN 2026 di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

“Juli, Agustus nanti akan menguat, sehingga secara keseluruhan kami masih ke sana, adapun mengenai faktor technical-nya memang ada beberapa faktor global, dan juga faktor domestik,” tandas Perry.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *