PravadaNews – Gejolak global akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah mulai memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia.
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk meningkatnya biaya energi dan transportasi internasional.
Kondisi tersebut diperparah oleh terganggunya produksi, distribusi, serta rantai pasok perdagangan antarnegara yang ikut mendorong kenaikan harga berbagai komoditas dunia lainnya.
Situasi ini dinilai memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat.
“Terganggunya produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara juga mendorong kenaikan pada harga komoditas dunia lainnya,” Tulis Bank Indonesia dalam keterangan tertulisnya dikutip Kamis (21/5/2026).
Perkembangan ini mengakibatkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah sebesar 3,0% dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3%. Respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, bahkan sejumlah bank sentral mulai menaikkan kebijakan suku bunganya.
Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026 dan terdapat kemungkinan akan naik pada 2027 dengan inflasi AS yang masih tinggi.
Imbal hasil (yield) US Treasury yang telah naik ke 4,66% (tenor 10 tahun) dan 4,11% (tenor 2 tahun) pada 19 Mei 2026, dan diperkirakan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal AS yang membesar.
Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS.
Perkembangan ini juga mendorong kuatnya Indeks dolar AS dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun mata uang negara berkembang (ADXY).
Terus memburuknya prospek perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.















