PravadaNews – Sepiring makanan asin, minuman manis, dan gorengan yang dianggap biasa dapat menjadi awal risiko stroke beberapa tahun kemudian.
Persoalan itu muncul karena pola makan buruk sering tidak langsung membuat seseorang merasa sakit. Risiko baru terlihat ketika tekanan darah, kadar gula, atau kolesterol mulai naik secara perlahan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, penyakit tidak menular (PTM) banyak dipengaruhi kebiasaan makan harian. Akumulasi pola makan buruk dapat meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung dalam jangka panjang.
“Banyak orang merasa dirinya sehat hari ini, padahal lima atau sepuluh tahun lagi berisiko terkena stroke atau serangan jantung akibat pola makan yang buruk,” ujar Budi dalam keterangan resminya, Kamis (9/7/2026).
Peringatan tersebut membuat pencegahan stroke tidak cukup dibaca dari layanan kesehatan setelah seseorang sakit. Pemerintah perlu mendorong perubahan konsumsi sebelum risiko penyakit menumpuk di tubuh.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan batas konsumsi gula, garam, serta lemak (GGL) untuk menekan risiko ini. Batas hariannya ada di empat sendok makan gula, satu sendok teh garam, hingga lima sendok makan lemak.
Kebijakan pencegahan juga didorong melalui Nutri-Level agar masyarakat lebih mudah membaca kandungan produk pangan. Dengan cara itu, konsumen dapat membandingkan kadar GGL sebelum membeli makanan atau minuman kemasan.
Diketahui, data survei kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kebiasaan makan masyarakat masih menjadi tantangan besar. Sebanyak 96,7% penduduk usia lima tahun ke atas tercatat kurang mengonsumsi sayur dan buah.
Dalam survei yang sama, 33,7% penduduk gemar mengonsumsi makanan manis. Sementara itu, 47,5% penduduk gemar mengonsumsi minuman manis yang dapat menambah beban risiko metabolik.
Risiko jangka panjang juga terlihat dari kenaikan obesitas pada penduduk dewasa. Prevalensi obesitas usia 18 tahun ke atas naik dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Dari sisi medis, Alodokter menjelaskan, makanan cepat saji kerap mengandung lemak jenuh ataupun garam tinggi. Lemak jenuh dapat menaikkan kolesterol jahat, sedangkan garam berlebih dapat meningkatkan tekanan darah.
“Penyebab utama penyakit jantung dan stroke adalah konsumsi makanan tinggi kolesterol,” tulis Alodokter dalam ulasan kesehatannya, dikutip Jumat (10/7).
Dalam penjelasannya, kadar garam berlebih dapat menaikkan tekanan darah dan beban kerja jantung. Kondisi ini membuat pola makan buruk tidak berdampak secara tiba-tiba, tapi membentuk risiko secara bertahap.
Karena itu, pesan pencegahan stroke perlu dimulai dari kebiasaan makan yang paling dekat dengan masyarakat. Pilihan makanan hari ini dapat menentukan risiko kesehatan tubuh dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang.














