PravadaNews – Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan rezim Israel agar tidak melakukan agresi militer berkelanjutan di Gaza dan Lebanon.
Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Esmaeil Qa’ani mengatakan, apa yang terjadi di Selat Hormuz dapat menjadi cerminan di Selat Bab el-Mandeb.
“Agresi Zionis di Lebanon dan Gaza, yang dilakukan dengan dukungan tanpa malu-malu dari Amerika Serikat, akan semakin memperkuat tekad Poros Perlawanan untuk memperluas dukungannya bagi kedua front, bergerak menuju pengaktifan front lain, dan menyelaraskan kondisi lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb dengan kondisi di Selat Hormuz,” kata Esmaeil Qa’ani dalam pesan media sosial, dikutip Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: Iran Kembali Luncurkan Serangan Balasan ke Pangkalan AS
Esmaeil Qa’ani juga memperingatkan rezim Israel bahwa tindakannya di Lebanon selatan dan Gaza akan dibalas dengan operasi militer oleh gerakan perlawanan Palestina dan Lebanon.
Sebelumnya pada hari Senin, rezim Israel mengumumkan rencana untuk membom distrik-distrik selatan ibu kota Lebanon, Beirut, dan mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk di sana.
Langkah tersebut diambil setelah rezim Iran memperluas operasi militernya di Lebanon selatan selama pekan lalu.
Sebagai tanggapan, Iran mengatakan akan menangguhkan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui perantara Pakistan.
Teheran berpendapat bahwa gencatan senjata dengan Washington, yang mulai berlaku pada 8 April, mencakup penghentian pertempuran di semua lini, termasuk Lebanon.
Setelah peringatan Iran, Presiden AS Donald Trump mengatakan di platform Truth Social miliknya bahwa ia telah melakukan panggilan telepon yang “sangat produktif” dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut, dan pasukan yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan,” tulis Trump.















