PravadaNews – Industri kelapa sawit Indonesia mulai mempercepat transformasi menuju produksi rendah emisi. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Pabrik Minyak Sawit Emisi Karbon Rendah atau PaMER. Teknologi tersebut dirancang menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menekan emisi karbon.
Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat M. Sinaga, mengatakan skema PaMER wajib dijalankan melalui kemitraan operasi dengan koperasi petani sawit rakyat. Model tersebut ditujukan agar manfaat ekonomi langsung diterima para pekebun.
Selain menghasilkan minyak sawit, PaMER juga membuka peluang pendapatan dari perdagangan karbon. Hasil penjualan kredit karbon ditargetkan mengalir kepada koperasi petani.
Industri juga diarahkan meninggalkan ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Produk yang dikembangkan adalah Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Harga DPMO itu akan berada 10 hingga 15 USD per ton di atas harga CPO,” ujar Sahat saat dihubungi, Sabtu (27/6/2026).
Selain meningkatkan nilai produk, limbah biomassa dari pabrik PaMER akan dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan peningkatan produksi dilakukan tanpa memperluas lahan perkebunan. Strategi tersebut ditempuh melalui moratorium izin baru dan penguatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Program PSR difokuskan pada penggantian tanaman tua dengan bibit unggul. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun milik petani.
GAPKI juga mendorong penguatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari penerapan prinsip keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.
Menurut DMSI, komitmen terhadap keberlanjutan menjadi daya tarik bagi investor global. Investor dari China disebut siap menyediakan pembiayaan senilai US$9 miliar untuk mendukung peremajaan kebun dan pengadaan permesinan.
Sementara itu, pemerintah terus memperkuat hilirisasi sawit melalui pengembangan produk pangan bernutrisi tinggi dan program biodiesel. Implementasi B40 disiapkan untuk ditingkatkan menuju B50 sebagai bagian dari transisi energi nasional.
DMSI juga mendukung penguatan tata kelola ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Organisasi tersebut mengusulkan agar Danantara ke depan dikembangkan dengan pola bursa komoditas sehingga Indonesia dapat menjadi penentu harga kelapa sawit dunia sekaligus memperkuat posisi tawar petani rakyat. (rosikhul)















